AALI – Astra Agro Lestari Tbk
► Pencatatan Saham
► Laporan Tahunan
► Obligasi & SUKUK
► Pencatatan Saham
► Laporan Tahunan
► Obligasi & SUKUK
Bank BRI kembali mendapatkan penghargaan sebagai Bank Terbaik Indonesia 2015. Penghargaa ini diberikan oleh Asiamoney Magazine pada Asiamoney Domestic Bank Awards yang dirilis pada bulan Juni 2015. Berikut daftar Best Domestic Bank di kawasan Asia 2015 :
| Country | Best Domestic Bank | Best Equity House | Best Debt House |
| Australia | ANZ | Macquarie | ANZ |
| China | ICBC | CITIC Securities | CITIC Securities |
| Hong Kong | HSBC | HSBC | HSBC |
| India | Axis Bank | Kotak Mahindra Bank | Axis Bank |
| Indonesia | Bank Rakyat Indonesia | Danareksa Sekuritas | Indo Premier Securities |
| Japan | MUFG | Nomura | Mizuho |
| Malaysia | Public Bank | Maybank | CIMB |
| Pakistan | Habib Bank Ltd | Elixir Securities | JS Global |
| Philippines | BDO Unibank | Metropolitan Bank and Trust Co | BDO Unibank |
| Singapore | DBS | DBS | DBS |
| South Korea | Shinhan Bank | NH Investment & Securities | KB Financial Group |
| Taiwan | E.Sun Bank | Fubon Securities | Yuanta Securities |
| Thailand | Siam Commercial Bank | Bualuang Securities PCL | Siam Commercial Bank |
| Vietnam | Vietcombank | — | — |
Tahun 2015 dibandingkan tahun 2014 untuk negara Indonesia :
| Year | Best Domestic Bank | Best Equity House | Best Debt House |
| 2015 | Bank Rakyat Indonesia | Danareksa Sekuritas | Indo Premier Securities |
| 2014 | Bank Rakyat Indonesia | Mandiri Sekuritas | Mandiri Sekuritas |
Forbes 2000 the world biggest companies memuat 2000 daftar perusahaan publik terbesar di dunia. Rangking ini dibuat berdasarkan penjualan, keuntungan, aset yang dimiliki dan market value.
Untuk edisi tahun 2015 yang dirilis bulan Mei 2015, ada 7 perusahaan publik Indonesia masuk ke dalam daftar tersebut.
Berikut daftar ke 7 perusahaan publik terbesar Indonesia 2015 versi Forbes.
| Perusahaan | Rank | Penjualan | Profit | Asset | Nilai pasar | |
|---|---|---|---|---|---|---|
| 1. Bank Rakyat Indonesia | #457 | $6.9 B | $2 B | $64.8 B | $24.9 B | |
| 2. Bank Mandiri | #490 | $7.1 B | $1.7 B | $69 B | $22 B | |
| 3. Bank Central Asia | #630 | $4.4 B | $1.4 B | $44.6 B | $28.9 B | |
| 4. Telekom Indonesia | #783 | $7.6 B | $1.2 B | $11.4 B | $22.1 B | |
| 5. Bank Negara Indonesia | #927 | $3.6 B | $909 M | $33.6 B | $10.4 B | |
| 6. PGN | #1542 | $3.4 B | $721 M | $6.2 B | $9.1 B | |
| 7. Gudang Garam | #1679 | $5.5 B | $453 M | $4.7 B | $7.7 B |
Dari ketujuh perusahaan publik diatas :
☑ 5 perusahaan merupakan BUMN yaitu BRI, Mandiri, BNI, Telkom, PGN.
☑ 4 perusahaan merupakan perbankan yaitu BRI, Mandiri, BCA, BNI.
☑ 1 perusahaan di sub sektor telekomunikasi yaitu Telkom.
☑ 1 perusahaan di sub sektor energi yaitu PGN.
☑ 1 perusahaan di sub sektor rokok yaitu Gudang Garam.
Pada tahun 2014 ada 9 perusahaan publik Indonesia yang masuk rangking Forbes 2000 the world biggest companies. Perusahaan Semen Indonesia dan Bank Danamon keluar dari Forbes 2000 the world biggest companies. Dengan kata lain, kedua perusahaan ( Semen Indonesia dan Bank Danamon ) memiliki ranking diatas 2000.
Berikut perbandingan ranking tahun 2015 dan 2014 :
| Perusahaan | No | Ranking 2015 |
Ranking 2014 |
No |
| Bank Rakyat Indonesia | 1 | # 457 | # 484 | 2 |
| Bank Mandiri | 2 | # 490 | # 478 | 1 |
| Bank Central Asia | 3 | # 630 | # 661 | 3 |
| Telekom Indonesia | 4 | # 783 | # 768 | 4 |
| Bank Negara Indonesia | 5 | # 927 | # 965 | 5 |
| PGN | 6 | # 1542 | # 1311 | 6 |
| Gudang Garam | 7 | # 1679 | # 1547 | 7 |
| Semen Indonesia | 8 | – | # 1620 | 8 |
| Bank Danamon | 9 | – | # 1898 | 9 |
Dari keempat perusahaan perbankan ( BRI, Mandiri, BCA, BNI ), 3 diantaranya ( BRI, BCA, BNI ) mendapat ranking yang membaik ( angka ranking mengecil ). Hanya 1 yang rangkingnya memburuk yaitu Mandiri. BRI berhasil naik peringkat ke posisi 1 di Indonesia mengalahkan Mandiri yang menjadi nomor 1 di tahun 2014.
Pasar Modal merupakan kegiatan yang bersangkutan dengan Penawaran Umum dan perdagangan Efek, Perusahaan Publik yang berkaitan dengan Efek yang diterbitkannya, serta lembaga dan profesi yang berkaitan dengan Efek. Sejarah pasar modal di Indonesia sudah dimulai pada abad-19 berupa jual beli saham dan obligasi . Dalam menjalankan fungsinya, jenis pasar modal dibagi menjadi tiga macam, yaitu pasar perdana, pasar sekunder, dan bursa paralel.
Pasar perdana adalah jenis pasar modal yang melakukan penjualan perdana efek atau penjualan efek oleh perusahaan yang menerbitkan efek sebelum efek tersebut dijual melalui bursa efek. Pada pasar perdana, efek dijual dengan harga emisi, sehingga perusahaan yang menerbitkan emisi hanya memperoleh dana dari penjualan tersebut.
Pasar sekunder adalah jenis pasar modal yang melakukan penjualan efek setelah penjualan pada pasar perdana berakhir. Pada pasar sekunder ini harga efek ditentukan berdasarkan kurs efek tersebut. Naik turunnya kurs suatu efek ditentukan oleh daya tarik menarik antara permintaan dan penawaran efek tersebut. Bagi efek yang dapat memenuhi syarat listing dapat menjual efeknya di dalam bursa efek, sedangkan bagi efek yang tidak memenuhi syarat listing dapat menjual efeknya di luar bursa efek.
Bursa paralel adalah jenis pasar modal sebagai pelengkap bursa efek yang ada. Bagi perusahaan yang menerbitkan efek yang akan menjual efeknya melalui bursa dapat dilakukan melalui bursa paralel. Bursa paralel diselenggarakan oleh Persatuan Perdagangan Uang dan Efek-efek (PPUE).
Awal tahun 2012, investor di pasar modal Indonesia disibukkan dengan aturan baru. Investor diwajibkan untuk membuka rekening baru di Bank yang sudah ditunjuk (melalui broker/anggota bursa ). Rekening baru ini disebut dengan RDN (Rekening Dana Nasabah) atau sering juga disebut dengan RDI (Rekening Dana Investor). Apa itu RDN ini? Dan apa manfaatnya bagi investor?
RDN merupakan sebuah rekening dana yang dibuka di Bank yang menjadi partner dari Broker Saham / Anggota Bursa (AB) dimana investor tersebut menjadi nasabah. Hal ini mengacu pada diberlakukannya peraturan baru oleh Bapepam-LK No V.D.3 Tanggal 28 Dec 2010, mengenai kewajiban pembukaan sub rekening efek.
Kita semua tentu masih ingat dengan kasus Sarijaya Sekuritas beberapa tahun yang lalu. Dana nasabah dimanipulasi dan disalahgunakan sehingga akhirnya menimbulkan kerugian. Hal tersebut terjadi karena tidak ada pemisahan antara dana nasabah dengan dana milik Broker / AB. Bercermin dari kasus tersebut, regulator dan SRO kemudian mencari solusi agar hal seperti itu tidak terulang kembali. Akhirnya muncullah apa yang dinamakan dengan RDN.
RDN pada prinsipnya merupakan rekening milik investor yang terpisah dari rekening Broker / AB, sehingga setiap saat bisa dimonitor oleh investor. Meskipun Broker / AB diberi kuasa untuk melakukan penarikan dana (misalnya untuk pelunasan transaksi nasabah), namun dengan adanya fasilitas bagi investor untuk memonitor saldo maupun mutasi rekening, maka tingkat keamanannya lebih baik jika dibandingkan dengan kondisi pada masa lalu.
Proses pembukaannya pun sangat mudah. Investor tinggal mengisi dan menandatangani formulir pembukaan RDN di Broker / AB masing-masing. Proses selanjutnya menjadi tanggung jawab Broker / AB.
Jadi apa manfaat RDN? Manfaat RDN yang paling utama adalah meningkatkan keamanan dana investor yang dititipkan di Broker / AB, sehingga diharapkan kasus seperti Sarijaya tidak terulang kembali. Di sisi lain, RDN ini menjadi suatu kewajiban yang harus dipenuhi oleh investor agar dapat bertransaksi di Bursa Efek Indonesia. Tanpa RDN, investor tidak diperbolehkan untuk bertransaksi.