Membeli karena rasa suka. Diawal saya menjadi investor, saya menyaksikan beberapa investor yang kebetulan bekerja di Bank BRI. Hampir semua investor tersebut membeli saham BRI. Padahal pada waktu itu pemimpin pasar adalah sektor pertambangan. Ada rasa “suka” terhadap saham yang mereka beli karena kebetulan mereka bekerja di perusahaan yang sahamnya mereka beli. Menurut saya, pembelian semacam ini tidak obyektif. Yang anda cari adalah saham-saham yang akan memberikan keuntungan besar buat anda. Meskipun saham BRI yang mereka beli saat itu dalam beberapa bulan harganya naik, namun pemimpin pasar pada saat itu yaitu sektor tambang naik jauh berlipat-lipat meninggalkan kenaikan harga BRI.
Tidak mau keluar setelah menyadari ada kesalahan
Banyak investor yang membeli saham yang “tidak dapat dibanggakan”. Membeli saham dari perusahaan yang merugi, pertumbuhan laba penjualan menurun, ROE nya rendah, dan juga bukan pemimpin pasar. Begitu menyadari bahwa salam yang dibeli adalah hasil pemilihan yang salah, enggan untuk mengakui dan tidak cepat keluar.
Memilih saham lapis kedua berdasarkan deviden atau rasio P/E
Faktor deviden dan rasio P/E (price earning ratio/rasio harga saham dibandingkan dengan labanya) tidak sepenting faktor pertumbuhan EPS (earning per share/laba per lembar saham).
Dalam banyak kasus, makin besar deviden yang dibayar oleh perusahaan, makin melemah harga sahamnya. Bunga yang harus mereka bayar untuk menyediakan dana itu kembali (setelah dana berkurang yang dibayarkan untuk deviden), cendrung lebih besar. Perusahaan-perusahaan yang kinerja sahamnya (harga sahamnya di bursa) yang makin baik, biasanya tidak mengambil langkah pembayaran deviden. Sebagai gantinya, dana itu mereka investasikan kembali kedalam aktifitas riset dan pengembangan atau kedalam bentuk-bentuk lain demi memperbaiki dan meningkatkan kinerja perusahaan.
Berkaitan dengan rasio P/E, maka saham yang memiliki rasio P/E rendah ini bisa jadi disebabkan oleh labanya yang cendrung turun atau perusahaan sebelumnya berkinerja buruk, dimana harga sahamnya sudah turun jauh lebih dulu.
Keputusan membeli saham berdasarkan rumor
Keputusan membeli saham berdasarkan rumor, kisah-kisah, rekomendasi para konsultan, opini para “ahli” di TV.
Banyak orang di bursa suka mempertaruhkan uang hasil kerja keras mereka pada apa yang dikatakan orang lain, bukannya belajar demi meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya untuk bisa menentukan sikapnya sendiri secara benar. Banyak rumor dan kisah-kisah yang menyesatkan anda. Kalaupun jika sekali waktu mereka toh benar, bukan berarti ini bisa dipakai sebagai patokan. Seringkali saham-saham harganya bergerak justru berlawanan dengan apa yang dikomentari di TV atau diulas di koran.
Membeli ketika harga rata-rata turun (average down)
Banyak investor membeli saat harga turun, lalu melanjutkan pembelian lagi dengan jumlah lebih banyak ketika harga makin turun. Begitu harga makin turun lagi, makin banyak lagi membelinya. Membeli dengan harga rata-rata turun (average down). Jika anda melakukan ini, anda mengikuti cara berpikir investor pecundang. Jika saham berlanjut penurunannya sudah pasti ada sesuatu yang tidak beres. Anda seharusnya memangkas kerugian, bukannya membeli semakin banyak.
