Kisah ayam kalkun: psikologis investor

Perilaku investor saham yang menjadi kebiasaan yang sebenarnya keliru sering terjadi di bursa saham.  Kisah ayam kalkun akan menggambarkan bagaimana sangat diperlukannya sikap yang fleksibel tatkala bursa berbalik arah. Banyak psikologis yang membuat investor melakukan kesalahan klasik (baca: Kesalahan investor yang sangat klasik).

Kisah ayam kalkun: psikologis investor

Seorang bocah kecil sedang berjalan-jalan, lalu bertemu sorang lelaki tua yang sedang berusaha menangkap ayam kalkun liar. Lelaki itu membawa alat perangkap, sebuah alat yang terdiri dari kotak besar dengan tutupan pintu yang bergantung dibagian atasnya. Pintu itu dibiarkannya terbuka dengan alat penyangga yang diikat dengan tali dan dapat ditarik dari jarak 20 m. Jagung ditebarkan untuk menjebak sang kalkun., diluarnya ditebar sedikit-sedikit, makin mendekati pintu jebakan disebar makin banyak. Paling banyak ada didalam kota perangkap.

Rencananya, jika sudah banyak kalkun yang masuk perangkap, Pak Tua akan menarik talinya sehingga penyangga jatuh dan pintu tertutup. Sekali pintu tertutup, dia tidak dapat membukanya kembali kecuali dia naik keatas kotak dan menarik pintu itu dari atas. Menurut Pak Tua, saat yang tepat untuk menarik tali adalah ketika kalkun-kalkun yang terperangkap sudah maksimal mungkin.

Suatu hari, kotak perangkap sudah disiapkan dan Pak Tua melihat ada selusin kalkun yang sudah berada didalam kotak. Namun, sebelum sempat menarik tali, ada satu kalkun yang keluar lagi dan pergi, sehingga tinggal sebelas yang ada didalam kotak. “Ah, andaikan tadi aku cepat-cepat menutup pintunya ketika masih ada dua belas di dalam,” kata Pak Tua dalam hatinya. “ Biar kutunggu beberapa menit lagi, barangkali kalkun yang tadi pergi itu akan kembali”

Sementara Pak Tua menunggu, dua ekor kalkun pergi keluar lagi meninggalkan kotak perangkap. “Ah, mestinya aku sudah cukup berpuas diri dengan sebelas ekor. Pak Tua itu menyesali. Mulai sekarang, asal sudah kembali sebelas jumlahnya, aku akan menarik tali.

Pak Tua kembali menunggu, namun tiga ekor kalkun keluar lagi. Karena sebelumnya dia sudah girang dengan melihat ada dua belas kalkun yang sempat masuk kedalam kota perangkapnya, maka dia pun merasa enggan pulang membawa hanya enam ekor kalkun saja. Dia tidak mampu membuang harapannya bahwa kalkun yang sudah keluar tidak akan kembali lagi masuk perangkap.

Akhirnya, tinggal satu kalkun saja yang masih tersisa didalam kotak perangkap. Saking kesalnya Pak Tua pun berkata dalam hati “ Biar kutunggu sampai yang satu ini keluar atau ada kalkun lain yang masuk lagi, baru aku pulang.” Akhirnya kalkun yang hanya tinggal satupun keluar dan tidak kembali, Sementara tidak ada lagi kalkun baru yang masuk perangkap. Pak Tua pun pulang dengan tangan hampa.

Psikologis investor saham sangat banyak yang seperti ini. Mereka malah berharap saham-sahamnya yang mulai meluncur turun, kembali naik ke harga sebelumnya agar dia bisa menjualnya. Bukannya segera menjual mumpung masih ada untung, malah berharap sahamnya akan naik lagi padahal malah meluncur makin turun. Dan akhirnya saham malah turun hingga berada dalam posisi rugi, dan mungkin saja akan naik lagi entah kapan.

Investor Saham

Kesalahan klasik investor saham

Kisah si gaun merah

Keahlian, tingkat pendidikan dan ego

Kisah si gaun merah: psikologis investor

Menghadapi bursa saham sebenarnya tidak berbeda dengan anda mengelola bisnis (perusahaan) anda sendiri. Investasi saham juga bisnis, karena itu masuk akal jika diperlakukan sebagaimana layaknya sebuah bisnis. Banyak psikologis yang membuat investor melakukan kesalahan klasik (baca: Kesalahan investor yang sangat klasik).  Berikut ilustrasi psikologis investor tentang kisah si gaun merah.

Kisah si gaun merah

Misalkan saja anda punya toko yang memperdagangkan busana wanita. Untuk persediaan, anda telah membeli dan menumpuk sejumlah busana wanita dalam tiga macam warna: merah, kuning, hijau. Busana merah sangat cepat habis terjual, warna hijau hanya terjual separo, dan warna kuning belum terjual sama sekali. Apa yang harus anda lakukan ketika menghadapi situasi ini?

Pedagang yang mampu bertahan di bisnis retail akan melihat persoalan secara obyektif, lalu berkata “Ternyata kita telah keliru membeli gaun berwarna kuning. Maka turunkan saja harganya 10% agar lebih bisa dijual. Jika tidak laku juga, turunkan lagi 20%. Pokoknya jual kuning dengan obral agar cepat terjual. Uangnya bisa kita gunakan untuk membeli gaun merah yang laris manis.” Inilah yang dinamakan obyektifitas dalam bisnis retail. Apakah cara seperti ini akan diterapkan dalam investasi saham? Kenapa tidak?

Setiap orang dapat keliru membeli saham, tidak laku-laku dengan harga jual yang diharapkan. Jika anda menyadari bahwa anda telah keliru dalam memilih saham, segera akui dan segeralah bersikap obyektif dan realistis. Juallah cepat-cepat dengan menurunkan harga jual anda, dan segera ganti dengan saham yang lain. Anda tidak mungkin selalu benar, namun disaat anda benar anda akan untung besar, dan dikala anda keliru, segeralah sadari kekeliruan dan bersikap obyektiflah dengan situasinya.

Investor saham

Kesalahan klasik investor saham

Kisah ayam kalkun

Keahlian, tingkat pendidikan dan ego

Investor saham supermarket

Investor saham supermarket

Saham supermarket, terlalu banyak macam saham yang dibeli

Anda pasti sering mendengar nasehat

Jangan mengumpulkan semua telur-telurmu dalam satu keranjang”.

Sepintas lalu nasehat ini terlihat bagus. Namun banyak investor yang kebablasan dalam menerima nasehat ini. Mereka meletakkan telur-telurnya dalam banyak keranjang. Saking banyaknya hingga dia tidak mampu untuk mengawasi semua keranjang. Tidak ada orang yang dapat melakukan segalanya sekaligus dengan baik.

Tidak ada orang yang dapat menjadi ahli dalam segala hal, termasuk dalam konteks investasi saham. Maukah anda memeriksakan gigi anda ke dokter gigi yang punya profesi sambilan sebagai teknisi atau tukang kayu, sementara di sela-sela kesibukannya itu dia juga masih mengerjakan pekerjaan menulis lagu, mekanik mobil, tukang ledeng, dan akuntansi? Adalah benar bahwa anda jangan meletakkan telur-telur anda dalam satu keranjang. Jangan letakkan seluruh uang anda dalam satu saham. Namun bukan berarti anda harus meletakkannya dalam terlalu banyak macam saham. Kalaupun bisnis sektor batubara sedang laju pesat, bukan berarti ada harus membeli semua saham batubara. Anda perlu membeli satu sektor batubara. Membeli salah satu yang terbaik dari semua saham yang bergerak di sektor batubara. Selanjutnya, anda harus membeli saham di sektor lain yang juga sedang melaju. Pilih yang terbaik diantara saham yang berada dalam satu sektor tertentu.

Jadi yang lebih bijaksana adalah

Jangan meletakkan telur-telurmu dalam satu keranjang, tetapi letakkanlah dalam beberapa keranjang saja yang anda pahami dan bisa anda awasi”.

Bukannya kebablasan dengan “meletakkan telur-telurmu dalam sangat banyak keranjang”. Anda akan sulit mengawasinya. Bila situasi bursa yang cendrung turun (Bearish) anda akan lambat beraksi terhadapnya.  Salah-salah anda malah kena serangan jantung 😀 . Semakin banyak macam saham yang anda beli, sebenarnya menunjukkan ketidaktahuan anda tentang saham apa saja yang layak untuk anda beli. Anda tidak mempelajari dan mungkin tidak mau berusaha membuat suatu rumusan anda sendiri dalam menyeleksi saham-saham yang layak anda beli. Akibatnya anda asal beli. Ujung-unjungnya ada saham anda yang naik, disisi lain malah banyak yang turun.




Anda akan cendrung berpikir parsial. Hanya memperhitungkan saham yang naik saja dan menghitung keuntungan dari saham anda yang naik. Sementara saham anda yang turun tidak anda perhitungkan dengan alasan toh belum dijual. Seharurnya anda berpikir secara menyeluruh terhadap keseluruhan portofolio anda. Setiap hari anda mesti menghitung seluruh nilai saham anda baik yang naik maupun yang turun. Percaya atau tidak, perilaku supermarket tidak akan membuat anda untung secara keseluruhan. Kalaupun untung, keuntungannya secara prosentase tidak seberapa dibandingkan keseluruhan modal anda. Adalah sangat konyol mengatakan bahwa saham anda yang merugi tidak perlu anda perhitungkan selama belum dijual. Dijual atau belum, nilai portofolio anda tetap saja mengacu pada harga saat itu.  Bagaimana kalau anda kepepet uang untuk keperluan mendadak semisal untuk biaya rumah sakit?  Anda akan menjual dengan harga pasar saat itu.

Proporsi macam saham untuk dimiliki

Jika anda bermodal sedikit, dua atu tiga macam saham sudah cukup buat anda miliki. Jika anda bermodal besar, tidak otomatis anda harus memiliki macam saham berdasarkan kelipatan dari yang berdana kecil. Anda cukup punya lima hingga sepuluh macam saham saja. Ini membuat anda akan fokus. Harimau akan berhasil menangkap mangsanya apabila ia sudah menentukan sasaran dan fokus terhadap sasaran itu. Begitu juga anda dengan saham-saham anda. Kalau anda sudah memiliki sepuluh macam saham, namun anda tergiur dengan saham lain yang belum anda miliki, anda harus menukarnya dengan salah satu saham yang sudah anda memiliki, sehingga macam saham yang ada di tangan anda tetap sepuluh. Anda dapat membuang saham yang paling berkinerja buruk diantara saham-saham anda.

Memilih saham lapis kedua berdasarkan deviden atau rasio P/E

Faktor deviden dan rasio P/E (price earning ratio/rasio harga saham dibandingkan dengan labanya) tidak sepenting faktor pertumbuhan EPS (earning per share/laba per lembar saham).

Dalam banyak kasus, makin besar deviden yang dibayar oleh perusahaan, makin melemah harga sahamnya. Bunga yang harus mereka bayar untuk menyediakan dana itu kembali (setelah dana berkurang yang dibayarkan untuk deviden), cendrung lebih besar. Perusahaan-perusahaan yang kinerja sahamnya (harga sahamnya di bursa) yang makin baik, biasanya tidak mengambil langkah pembayaran deviden. Sebagai gantinya, dana itu mereka investasikan kembali kedalam aktifitas riset dan pengembangan atau kedalam bentuk-bentuk lain demi memperbaiki dan meningkatkan kinerja perusahaan.

Berkaitan dengan rasio P/E, maka saham yang memiliki rasio P/E rendah ini bisa jadi disebabkan oleh labanya yang cendrung turun atau perusahaan sebelumnya berkinerja buruk, dimana harga sahamnya sudah turun jauh lebih dulu.

Suka membeli saham murahan

Suka membeli saham murahan ( saham yang berharga murah dalam jumlah lot yang banyak ) daripada membeli saham yang berharga mahal dalam jumlah lot yang sedikit

Banyak yang berpikir, lebih baik membeli saham yang masih berharga Rp200, dari pada membeli saham yang berharga Rp5.000. Mereka merasa dengan cara ini, uang mereka akan menghasilkan manfaat yang lebih besar lagi. Dalam pikiran mereka, saham yang berharga Rp200 masih mungkin naik menjadi Rp5.000. Sedangkan saham yang berharga Rp5.000 sudah kecil kemungkinan naik lagi. Nah, anda mesti bersiap-siap untuk tercengang dengan kenyataan ini.

Pikiran macam ini sangat konyol. Harga saham akan naik bukan karena faktor berapa harganya saat ini, tetapi karena faktor kinerja perusahaannya, pertumbuhannya, prospek bisnisnya yang semakin besar dimasa yang akan datang. Di tahun 2006, harga saham KIJA Rp160, sedangkan harga saham INCO Rp 18.000. Ditahun 2007 akhir ,saham KIJA masih bertengger dibawah Rp300, sedangkan saham INCO melesat mendekati Rp100.000. Mutu yang terbaik tidak mungkin dijual pada harga murah.

Exit mobile version