2 Langkah Cara Beli Saham BCA (Online & Offline)

PT Bank Central Asia Tbk. yang populer dengan singkatan BCA merupakan perusahaan publik atau perusahaan terbuka. BCA terdaftar di Bursa Efek Indonesia sejak 31 Mei 2000 dengan kode saham BBCA. Saham BBCA merupakan salah satu saham blue chip dengan likuiditas perdagangan yang tinggi. Bagaimana cara beli saham BCA. Berikut akan dijelaskan 2 langkah cara beli saham BCA secara detil.

2 Langkah Cara Beli Saham BCA (Online & Offline)

Pastikan bahwa persiapan dan syarat-syarat berikut terpenuhi:

  • Punya KTP (sudah berumur 18 tahun keatas)
  • Sudah punya rekening bank.
  • Sudah memiliki NPWP

1. Buat Akun Saham

Langkah pertama cara beli saham BCA adalah dengan membuat Akun Saham. Dimana kita bisa membuat Akun Saham. Kita dapat membuat akun saham di salah satu perusahan broker saham ( perusahaan sekuritas atau perusahaan pialang saham). Berikut beberapa daftar broker saham yang bisa anda pertimbangkan untuk membuat akun saham:

  • BCA Sekuritas
  • BNI Sekuritas
  • Mandiri Sekuritas
  • BRI Danareksa Sekuritas
  • Sinarmas Sekuritas

Daftar broker saham selengkapnya bisa klik disini.

1.1 Buat Akun Saham Secara Offline

Untuk membuat akun saham secara offline adalah dengan mendatangi salah satu kantor cabang dari perusahaan sekuritas yang ada di kota anda. Ini sangat mirip dengan membuat rekening tabungan di bank.

Pastikan anda membawa KTP, buku tabungan dari salah satu rekening bank anda (rekening bank ini akan di-link kan dengan akun saham anda) dan kartu NPWP. Setelah selesai anda membuat akun saham, maka anda akan diberi nomor akun saham oleh perusahaan broker saham tersebut. Nomor akun itulah sebagai kunci identitas semua pembeli dan penjual saham yang terlibat di Bursa Efek Indonesia. Setelah memiliki akun saham, maka anda sekarang disebut sebagai investor saham.

1.2 Buat Akun Saham secara online

Perusahaan broker saham juga menyediakan fasilitas untuk membuat akun saham secara online. Berikut link ke situs online dari beberapa perusahaan  broker saham untuk membuat akun saham. Berikut daftar lengkap link pembukaan akun saham.

Pembukaan Akun Saham Online

No   Perusahaan Efek Link Pembukaan Rekening
1  PT Ajaib Sekuritas Indonesia Registrasi
2  PT BCA Sekuritas Registrasi
3  PT BNI Sekuritas Registrasi
4  PT BRI Danareksa Sekuritas Registrasi
5  PT CGS-CIMB Sekuritas Indonesia Registrasi
6  PT Ekuator Swarna Sekuritas Registrasi
7  PT Indo Capital Sekuritas Registrasi
8  PT Indo Premier Sekuritas Registrasi
9  PT Jasa Utama Capital Sekuritas Registrasi
10  PT Stockbit Sekuritas Digital Registrasi
11  PT Mandiri Sekuritas Registrasi
12  PT Minna Padi Investama Sekuritas Registrasi
13  PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia  Registrasi
14  PT Mega Capital Sekuritas Registrasi
15  PT MNC Sekuritas Registrasi
16  PT NH Korindo Sekuritas Registrasi
17  PT Panin Sekuritas Tbk Registrasi
18  PT Phillip Sekuritas Indonesia Registrasi
19  PT Profindo Sekuritas Registrasi
20  PT Phintraco Sekuritas Registrasi
21  PT Reliance Sekuritas Indonesia Registrasi
22  PT RHB Sekuritas Indonesia Registrasi
23  PT Sinarmas Sekuritas Registrasi
24  PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk Registrasi
25  PT Valbury Sekuritas Indonesia Registrasi
26  PT Ciptadana Sekuritas Registrasi
27  PT Lotus Andalan Sekuritas Registrasi
28  PT Maybank Kim Eng Sekuritas Registrasi
29  PT Sucor Sekuritas Registrasi
30  PT Samuel Sekuritas Indonesia Registrasi
31  PT Pilarmas Investindo Sekuritas Registrasi
32  PT Kiwoom Sekuritas Indonesia Registrasi
33  PT OCBC Sekuritas Indonesia Registrasi
34  PT Korea Investment & Sekuritas Indonesia Registrasi
35  PT Paramitra Alfa Sekuritas Registrasi
36  PT Wanteg Sekuritas   Registrasi
37  PT Nilai Inti Sekuritas   Registrasi
38  PT KAF Sekuritas Indonesia   Registrasi
39  PT Panca Global Sekuritas Registrasi
40  PT Semesta Indovest Sekuritas Registrasi
41  PT Trust Sekuritas Registrasi
42  PT Surya Fajar Sekuritas Registrasi
43  PT Yulie Sekuritas Indonesia Registrasi
44  PT Yuanta Sekuritas Indonesia  Registrasi
45  PT Webull Sekuritas Indonesia  Registrasi

Ikuti petunjuk disitus online dari masing-masing perusahaan broker saham tersebut.

2. Beli Saham BCA

Langkah pertama cara beli saham BCA adalah dengan membeli saham BCA itu sendiri. Cara beli saham BCA juga bisa dilakukan dengan 2 cara yaitu secara offline dan secara online. Sebelum membeli, anda harus menyetor dana yang cukup terlebih dahulu ke rekening RDN  (Rekening Dana Nasabah). RDN ini dibuatkan oleh broker saham sewaktu anda membuat akun saham.

2.1 Cara beli saham BCA secara offline

Ini bisa dilakukan dengan menghubungi petugas di kantor broker saham tempat akun saham dibuat. Bisa datang ke kantornya lalu memberikan perintah beli saham BCA (kode saham BBCA). Bisa juga dengan memberikan perintah melalui komunikasi telpon ke petugas di kantor broker saham.

2.2 Cara beli saham BCA secara online

Pembelian saham BCA secara online bisa dilakukan melalui aplikasi saham online yang disediakan oleh broker saham tempat akun saham dibuat. Masing-masing broker saham memiliki aplikasi trading online sendiri-sendiri. Berikut beberapa contoh aplikasi saham online dari broker saham:

  • Aplikasi BEST milik BCA Sekuritas
  • Aplikasi BIONS milik BNI Sekuritas
  • Aplikasi MOST milik Mandiri Sekuritas
  • Aplikasi BRIGHTS milik BRI Danareksa Sekuritas
  • Aplikasi SIMINVEST milik Sinarmas Sekuritas

Demikian langkah cara membeli saham BCA. Selamat berinvestasi saham.

Saham unggulan 2020 untuk investasi (EPS & ROE bagus)

Saham unggulan 2020 dipilih berdasarkan EPS dan ROE. Saham-saham yang dipilih harus memenuhi kriteria EPS (Earning Per Share | Laba per lembar saham)  yang selalu meningkat. Peningkatan EPS ini juga signifikan terhadap modal dimana ROE (Return On Equity | Tingkat Keuntungan terhadap Modal) memiliki rasio sekitar 20% atau lebih. Data EPS dan ROE bersumber dari situs Reuters.

Daftar saham di halaman ini diperbaharui di SahamU 20

Saham unggulan 2020 untuk investasi

Berikut daftar saham unggulan 2020 yang baik untuk investasi dengan membuat portofolio saham. Anda dapat melakukan analisis fundamental saham lebih rinci untuk memilihnya menjadi 3 atau 5 jenis saham saja menjadi portofolio saham.

1. KINO – Kino Indonesia Tbk

Sektor : Industri Barang Konsumsi

Sub sektor : Kosmetik dan keperluan rumah tangga

Kapitalisasi pasar : 3,8 trilyun

Saham Blue Chip : tidak

Saham syariah : Ya

1.1 EPS

Diluted normalized EPS
2020 Q1 2019 A 2018 A 2017 A 2016 A
40 218 104 76 110
8% 109% 38% -31%

Catatan:

Diluted normalized EPS maksudnya EPS yang sudah disesuaikan dengan perubahan jumlah saham beredar.

1.2 ROE

2019 A
22%

2. CLEO – Sariguna Primatirta Tbk

Sektor : Industri Barang Konsumsi

Sub sektor : Makanan dan Minuman

Kapitalisasi pasar : 5,8 trilyun

Saham Blue Chip : tidak

Saham syariah : Ya

2.1 EPS

Diluted normalized EPS
2020 Q1 2019 A 2018 A 2017 A 2016 A
12 6 5 6
93% 14% -11%

2.2 ROE

2019 A
19%

3. MNCN – Media Nusantara Citra Tbk

Sektor : Perdagangan, jasa dan investasi

Sub sektor : Percetakan, periklanan dan media

Kapitalisasi pasar : 12,3 trilyun

Saham Blue Chip : tidak

Saham syariah : Ya

3.1 EPS

Diluted normalized EPS
2020 Q1 2019 A 2018 A 2017 A 2016 A
180 120 109 99
50% 10% 10%

3.2 ROE

2019 A
21%

4. ULTJ – Ultrajaya Milk Industry Tbk

Sektor : Industri Barang Konsumsi

Sub sektor : Makanan dan Minuman

Kapitalisasi pasar : 16 trilyun

Saham Blue Chip : tidak

Saham syariah : Ya

4.1 EPS

Diluted normalized EPS
2020 Q1 2019 A 2018 A 2017 A 2016 A
91 61 62 61
49% -1% 1%

4.2 ROE

2019 A
20%

5. BTPS – Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah Tbk

Sektor : Keuangan

Sub sektor : Bank

Kapitalisasi pasar : 16,7 trilyun

Saham Blue Chip : tidak

Saham syariah : Ya

5.1 EPS

Diluted normalized EPS
2020 Q1 2019 A 2018 A 2017 A 2016 A
52 182 130 97 59
39% 40% 34% 63%

5.2 ROE

2019 A
30%

6. ACES – Ace Hardware Indonesia Tbk

Sektor : Perdagangan, jasa dan investasi

Sub sektor : Perdagangan eceran

Kapitalisasi pasar : 24,4 trilyun

Saham Blue Chip : tidak

Saham syariah : Ya

6.1 EPS

Diluted normalized EPS
2020 Q1 2019 A 2018 A 2017 A 2016 A
28 23 16 15
24% 38% 7%

6.2 ROE

2019 A
23%

7. SIDO – Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk

Sektor : Industri Barang Konsumsi

Sub sektor : Farmasi

Kapitalisasi pasar : 18,9 trilyun

Saham Blue Chip : tidak

Saham syariah : Ya

7.1 EPS

Diluted normalized EPS
2020 Q1 2019 A 2018 A 2017 A 2016 A
16 54 45 36 33
11% 22% 24% 10%

7.2 ROE

2019 A
27%

8. MYOR – Mayora Indah Tbk

Sektor : Industri Barang Konsumsi

Sub sektor : Makanan dan Minuman

Kapitalisasi pasar : 48 trilyun

Saham Blue Chip : ya

Saham syariah : Ya

8.1 EPS

Diluted normalized EPS
2020 Q1 2019 A 2018 A 2017 A 2016 A
89 77 71 61
16% 8% 18%

8.2 ROE

2019 A
22%

9. ICBP – Indofood CBP Sukses Makmur Tbk

Sektor : Industri Barang Konsumsi

Sub sektor : Makanan dan Minuman

Kapitalisasi pasar : 116,6 trilyun

Saham Blue Chip : ya

Saham syariah : Ya

9.1 EPS

Diluted normalized EPS
2020 Q1 2019 A 2018 A 2017 A 2016 A
435 392 347 319
11% 13% 9%

9.2 ROE

2019 A
21%

10. BBCA – Bank Central Asia Tbk

Sektor : Keuangan

Sub sektor : Bank

Kapitalisasi pasar : 631 trilyun

Saham Blue Chip : ya

Saham syariah : tidak

10.1 EPS

Diluted normalized EPS
2020 Q1 2019 A 2018 A 2017 A 2016 A
1159 1043 952 836
11% 10% 14%

10.2 ROE

2019 A
18%

11. BBRI – Bank Rakya Indonesia (Persero) Tbk

Sektor : Keuangan

Sub sektor : Bank

Kapitalisasi pasar : 321 trilyun

Saham Blue Chip : ya

Saham syariah : tidak

11.1 EPS

Diluted normalized EPS
2020 Q1 2019 A 2018 A 2017 A 2016 A
235 225 206 187
4% 9% 10%

11.2 ROE

2019 A
18%

12. KLBF – Kalbe Farma Tbk

Sektor : Industri Barang Konsumsi

Sub sektor : Farmasi

Kapitalisasi pasar : 65,5trilyun

Saham Blue Chip : ya

Saham syariah : Ya

12.1 EPS

Diluted normalized EPS
2020 Q1 2019 A 2018 A 2017 A 2016 A
53 52 51 49
2% 2% 4%

12.2 ROE

2019 A
16%

13. UNVR – Unilever Indonesia Tbk

Sektor : Industri Barang Konsumsi

Sub sektor : Kosmetik dan keperluan rumah tangga

Kapitalisasi pasar : 317 trilyun

Saham Blue Chip : ya

Saham syariah : Ya

13.1 EPS

Diluted normalized EPS
2020 Q1 2019 A 2018 A 2017 A 2016 A
49 201 239 184 168
4% -16% 30% 9%

13.2 ROE

2019 A
117%

BRI vs BCA (analisis saham medote CAN SLIM)

Analisis saham BRI vs BCA menggunakan medote CAN SLIM. Baik bank BCA (kode saham BBCA) maupun  bank BRI (kode saham BBRI), keduanya merupakan saham blue chip. Kapitalisasi sama-sama besar. Likuiditas sama-sama tinggi.

BCA sang borjuis.  BRI sang petani.

Ungkapan diatas adalah gambaran yang ada di kepala saya di awal tahun 90-an. Zaman masih awal kuliah.

Saat melintasi kantor bank BCA, kesan yang tertangkap adalah sangat borjuis.   Penuh dengan orang-orang yang datang berjas, berdasi, pake mobil mewah.  Wah, inilah bank para high class.  Bank BCA dikala itu begitu sukses dengan fasilitas ATM-nya yang tersebar dihampir semua kota besar di Indonesia.  Saya yang bokek ( maklum, mahasiswa kan bokek 😀 ), minder mau buka rekening di bank BCA.

Disisi lain, kantor bank BRI terlihat kusam di kecamatan, dimasuki oleh orang-orang dengan pakaian sederhana. Kesan yang tertangkap adalah bank nya orang kelas bawah, para petani, para pedagang pasar. Bicara tentang ATM, boro-boro gampang mencari ATM BRI.

Well, walhasil kala itu  saya tidak membuka rekening disalah satu dari kedua bank tersebut 😀

Sekarang 2012, lebih dari 20 tahun kemudian, bagaimanakah kedua bank ini? Sebagai investor individual, anda tidak perlu terlalu jauh masuk kedalam perusahaan untuk melihat track recordnya.  Dengan membedah laporan keuangan yang dipublikasikan di website BEI, kita akan menganalisa memakai indikator utama saja.  Dan yang paling cerdik adalah menggunakan analisa CAN SLIM.

Analisa CAN SLIM saham BRI vs BCA

[tabby title=”CA”]

1. Huruf C&A – BRI vs BCA

Current quarter Earning & Annual earning increase

Laba di kuartal terakhir  & laba tahunan yang meningkat

Laba yang dimaksud bukanlah laba bersih tetapi adalah laba per lembar saham ( earning per share – EPS ).  Berikut ringkasan dari EPS bank BCA dan BRI dalam 6 tahun terakhir.

1.1 EPS

Earning Per Share

laba per lembar saham

Kita menggunakan EPS yang terdilusi untuk menghilangkan bias oleh aktifitas yang mengakibatkan jumlah saham beredar meningkat ( seperti stock split, right issue, ESOP dan lainnya ).

EPS (diluted) 2007 2008 2009 2010 2011 2012
A A A A A Q3 A
  BBCA 182 234 279 348 444 339 452
BBRI 196 243 298 467 623 549 732
Peningkatan EPS
  BBCA   29% 19% 25% 28% 2%
BBRI   24% 23% 56% 34% 17%

A= Annualize ( disetahunkan ) ; Q3=3rd quater ( hingga kuartal ke 3 )

Catatan:

  • BBCA stock split tanggal 28 Januari 2008 dengan rasion 1:2.  Konsekwensinya, EPS ditahun 2007 harus dibagi 2 ( terdilusi ) sehingga EPS BCA tahun 2007 yang sebelumnya 364 menjadi 182.
  • BBRI stock split tanggal 11 Januari 2011 dengan rasio 1:2.  Konsekwensinya, EPS ditahun 2010 dan tahun sebelumnya harus dibagi 2 ( terdilusi ) sehingga EPS tahun 2009 yang sebelumnya 596 menjadi 298.  Begitu juga eps tahun sebelumnya ( 2008 & 2007 ).
  • EPS diatas dalam rupiah dan sudah dibulatkan ke desimal terdekat

Dalam 6 tahun terakhir secara nilai rupiah EPS bank BRI selalu mengalahkan bank BCA.   Dari segi peningkatan EPS, bank BRI juga mengalahkan bank BCA ( kecuali di tahun 2008 BBRI sedikit lebih rendah dibanding BBCA ).  Dalam kontek EPS, bank BRI mangalahkan bank BCA.

1.2 Pendapatan

Berikut ringkasan pendapatan bunga bank BRI vs BCA ( dalam trilyun rupiah )

Pendapatan 2007 2008 2009 2010 2011 2012
A A A A A Q3 A
  BBCA 16,3 19,3 22,9 20,7 24,1 19,9 26,5
BBRI 23,2 28,1 35,3 44,6 48,2 40,7 54,3
Peningkatan pendapatan
  BBCA  – 18% 19% -10% 16% 10%
BBRI  – 21% 26% 26% 8% 13%

Secara rupiah, pendapatan bank BRI selalu mengalahkan bank BCA.  Dari segi peningkatan pendapatan dari tahun ke tahun, bank BRI juga hampir selalu mengalahkan bank BCA.    Pendapatan bank BRI selalu meningkat, tidak pernah turun. Pendapatan bank BCA sempat turun di tahun 2010. Dalam hal pendapatan, bank BRI juga mengalahkan bank BCA.

1.3 Laba operasi

Berikut ringkasan laba operasi bank BRI vs BCA ( dalam trilyun rupiah )

Laba operasi 2007 2008 2009 2010 2011 2012
A A A A A Q3 A
  BBCA 6,3 7,7 8,5 10,4 13,3 10,0 13,3
BBRI 7,6 8,3 8,6 14,4 17,6 15,6 20,8
Peningkatan laba operasi
  BBCA  – 21% 11% 22% 28% 0%
BBRI  – 10% 3% 68% 22% 18%

Dari segi nilai rupiah, laba operasi bank BRI selalu mengalahkan bank BCA.  Pendapat kedua bank selalu meningkat dari tahun ke tahun, kecuali ditahun 2012 bank BCA menunjukkan laba operasi yang stagnan.  Dalam hal laba operasi bank BRI juga mengalahkan bank BCA.

1.4 ROE

Return On Equity  

laba dibandingkan modal

ROE didapat dengan membagi laba bersih dengan equity ( ekuitas ) atau modal.  Berikut ringkasan ROE bank BRI vs BCA ( laba bersih dan equity dalam trilyun rupiah ).

  2007 2008 2009 2010 2011 2012
A A A A A Q3 A
BBCA
  Laba bersih 4,5 5,8 6,8 8,5 10,8 8,2 10,9
Equity 20,4 23,3 27,9 34,1 42,0 49,2 49,2
ROE 22% 25% 24% 25% 26% 22%
BBRI
  Laba bersih  4,8 6,0 7,3 11,5 15,3 3,5 18,0
Equity 19,4 22,4 27,3 36,7 49,8 9,6 9,6
ROE 25% 27% 27% 31% 31% 30%

Kedua bank memiliki ROE yang bagus, berhasil membukukan laba bersih dengan ROE diatas 20%.  Tapi, tetap saja bank BRI memiliki pencapaian yang lebih baik dari bank BCA.  Bank BRI masih mengalahkan bank BCA dari segi ROE.

1.5 DER

Dept to Equity Ratio

rasio hutang terhadap modal

Dalam industri bank, tabungan nasabah merupakan hutang bagi bank. Makin besar hutangnya mengindikasikan makin banyak simpanan nasabah di bank tersebut. Berikut ringkasan DER bank BRI vs BCA ( hutang dan equity dalam trilyun rupiah )

  2007 2008 2009 2010 2011 2012
A A A A A Q3
BBCA
  Hutang 197,6 222,6 254,5 290,3 339,2 377,0
Equity 20,4 23,3 27,9 34,1 42,0 49,2
DER 9,66 9,56 9,14 8,51 8,07 7,66
BBRI
  Hutang   184,3   223,7   289,7   367,6   420,1   409,4
Equity     19,4     22,4     27,3     36,7     49,8     59,6
DER     9,48   10,01   10,63   10,02     8,43     6,87

Jumlah hutang bank BRI mulai lebih tinggi dari bank BCA sejak tahun 2008.   Ini mengindikasikan dana kelolaan nasabah di bank BRI makin banyak dibandingkan bank BCA.  Dalam konteks ini ( pengelolaan dana nasabah ) bank BRI mulai mengalahkan bank BCA.

Secara keseluruhan, analisa huruf C & A dalam CAN SLIM terhadap bank BCA dan bank BRI dimenangkan oleh bank BRI.

[tabby title=”N”]

2. Huruf N – BRI vs BCA

New management, New product, New high

Manajemen baru, produk baru, harga saham tertinggi baru

Harga saham bank BRI baru saja mencapai harga tertinggi baru ( new high ) di 7.850 pada tanggal 18 Oktober 2012.  Saham bank BCA masih mencoba mendekati harga tertinggi yang pernah terjadi yaitu 8.700 pada tanggal 4 Agustus 2011 ( lebih dari setahun yang lalu ).  Kemaren ( 7 Nopember 2012 ) harga saham BCA baru mampu ke 8.550. Masih dibawah harga tertinggi yang dicapai lebih dari setahun yang lalu.

Bank BCA melakukan perubahan di top management dengan mengganti direktur utama pada 12 Mei 2011. Pergantian direksi di bank BRI terjadi pada Mei 2011. Pada tahun 2013  kemungkinan juga akan terjadi pergantian di jajaran top manajemen BRI. Setiap pergantian top manajemen tentu dengan harapan bahwa manajemen baru akan terus meningkatkan perusahaan yang dipimpinnya. Bagaimana hasilnya, tertuang di laporan keuangan.

Dari segi produk perbankan, mungkin yang ditawarkan bank BCA juga ditawarkan oleh BRI. Kedua bank hampir memiliki jenis produk perbankan yang sama. Tinggal sekarang, bank yang manakah yang mampu menawarkan produknya secara inovatif sehingga menarik semakin banyak nasabah?.   Entahlah…Mari kita sama-sama gooling untuk mencari tahu 😀

[tabby title=”S”]

3. Huruf S – BRI vs BCA

Supply and demand

Permintaan dan penawaran

Kedua bank memiliki likuiditas yang tinggi di bursa.  Baru-baru ini setelah mencapai harga tertinggi baru, bank BRI sempat turun dengan volume banyak ( over supply ) diiringi dengan sedikit rumor.  Kalau secara teknikal, yang terjadi hanya tren turun akibat sentimen bursa yang meyakini harga terkoreksi ke MA 200 ( moving average 200 ).  Dan harga terendah bank BRI di 7.000 sudah mendekati MA 200.

Untuk mengetahui supply and demand dari saham kedua bank, mau tidak mau harus selalu mencermati aksi pasar melalui grafik harga saham harian.

[tabby title=”L”]

4. Huruf L – BRI vs BCA

Leader or Laggard

Pemimpin atau pecundang

Dalam 5 tahun terakhir bisa dikatakan bank BCA dan bank BRI masuk dalam top 3 pemimpin pasar (bersama dengan bank mandiri).  Ini tercermin dari likuiditas di bursa, kapitalisasi dan prosentase saham yang beredar di publik.

[tabby title=”I”]

5. Huruf I – BRI vs BCA

Institutional sponsorship

Institusi sponsor

Institusi mana saja yang berinvestasi di bank BCA dan bank BRI ?.   Saya masih kesulitan mendapatkan datanya 😀

[tabby title=”M”]

6. Huruf M – BRI vs BCA

Market direction

Arah pasar

Bursa Efek Indonesa masih mencoba bertahan dengan tren naiknya, meskipun regional (terutama dow jones) menunjukkan gejala pelemahan.

Individual tren dari saham bank BCA dan bank BRI dapat dicermati dari grafik harga saham berikut:

Grafik harga saham bank BCA 2012
Grafik harga saham bank BRI 2012

Pada kedua grafik, terlihat bahwa fluktuasi saham bank sangat rentan dengan isu-isu finansial. Perubahan suku bunga, kebijakan bank sentral Amerika (FED) kebijakan Bank Indonesia.

Bagi trader, bermain di kedua bank cukup aman, karena historisnya masih mampu mencapai harga tertingginya (jika nyangkut, anda tahan masih mampu balik).  Bagi investor yang bermain long, pilihan yang lebih baik (berdasarkan fakta kinerja keuangan diatas) adalah bank BRI.

[tabbyending]

Tinjauan terakhir

Dari analisa CAN SLIM diatas dan dengan melihat ke laporan keuangan 2012 kuartal ketiga, bank BRI masuk kategori saham CAN SLIM, sedangkan bank BCA sudah kurang memenuhi kriteria saham CAN SLIM.  Akankah di laporan keuangan akhir tahun 2012 bank BCA akan recovery dan kembali mencetak rekor pertumbuhan laba yang signifikan? Kita tunggu saja

Bicara masalah ekspektasi, outlook dan lain-lainnya yang bersifat masa depan (belum terjadi), bisa dibumbui dengan opini dan kepentingan.   Kinerja yang terlihat di laporan keuangan adalah fakta.

Mana pilihan anda?  Saya pilih saham BBRI aja lah 😀

Lihat juga :

Download laporan keuangan BRI

Download laporan keuangan BCA

Berita Tbk : PTPP, MYOR, BBCA, AALI, ANTM, JSMR, INTA,

Berita Perusahaan Tbk

PT PP Tbk (PTPP)

PT PP Tbk (PTPP) membukukan laba bersih sebesar Rp 44,98 miliar pada semester
I-2011. Laba tersebut melonjak 78,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu
sebesar Rp 25,2 miliar. Kenaikan laba bersih perseroan seiring dengan peningkatan
laba usaha sebesar 71,1% dari Rp 89,03 miliar menjadi Rp 152,4 miliar. Adapun pendapatan
perusahaan pada semester I-2011, mencapai Rp 1,67 triliun atau naik 23,7%
dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,35 triliun. Pertumbuhan
kinerja perseroan ditopang oleh keberhasilan perseroan menjalankan efisiensi biaya
pelaksanaan proyek hingga 1%. Hingga Juli 2011, perseroan berhasil membukukan
kontrak baru sebesar Rp 12 triliun hingga kuartal III-2011. Perseroan optimis pendapatan
tahun ini dapat mencapai Rp 8,4 triliun, melonjak 90,9% dibandingkan periode
yang sama 2010 sebesar Rp 4,4 triliun. (Positive)

PT Mayora Indah Tbk (MYOR)

PT Mayora Indah Tbk (MYOR) akan mencairkan fasilitas pinjaman sebesar Rp 500
miliar pada semester II-2011 dari total fasilitas pinjaman sebesar Rp 950 miliar.
Bunga pinjaman mengacu pada LIBOR ditambah 1,5%-2%. Pinjaman itu berasal dari
PT Bank Central Asia Tbk (BCA) sebesar Rp 300 miliar, Mizuho Bank sebesar Rp 300
miliar, dan ANZ Bank sebesar Rp 350 miliar. Jatuh temponya hingga 2018. Dana
tersebut akan dipakai untuk membiayai capex tahun ini sebesar Rp 700 miliar. Pencairan
pinjaman dibagi dalam dua tahap yaitu Rp 200 miliar pada semester I dan Rp
500 miliar pada semester II tahun ini. Tahun ini, perseroan menargetkan pendapatan
sebesar Rp 8,6 triliun meningkat 19,4% dibandingkan 2010 senilai Rp 7,2 triliun. Laba
bersih diproyeksi naik 4,3% menjadi Rp 505,3 miliar. (Positive)

PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI)

PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) telah mengucurkan dana Rp 800 miliar sepanjang
semester I-2011. Dana tersebut merupakan bagian dari capex tahun ini sebesar Rp
1,5 triliun. Dana tersebut digunakan untuk membangun infrastruktur, pabrik baru dan
perawatan kebun kelapa sawit. Sampai semester I, penggunaan dana capex mencapai
53,3%. Perseroan menghabiskan 25% dari capex yaitu sebesar Rp 800 miliar untuk
membangun infrastruktur. Sedangkan pembangunan pabrik baru dan replacement
pabrik lama 30% dan perawatan kebun 45%. (Positive)

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) kemungkinan untuk menerbitkan obligasi berdominasi
rupiah yang setara dengan US$ 350 juta pada akhir tahun ini dan mencari project
financing senilai US$ 650 juta untuk membiayai proyek feronikel di Buli, Halmahera
Timur, Maluku Utara. Proyek tersebut diperkirakan memiliki kapasitas produksi 27.000
ton Ni per tahun dan beroperasi secara komersial pada semester II/2014. (Positive)

PT Jasa Marga Tbk (JSMR)

PT Jasa Marga Tbk (JSMR) siap mengucurkan dana sebesar Rp 288 miliar untuk
mengerjakan proyek tol Serangan– Tanjong Benoa di Bali sepanjang 11.5 Km. Pengerjaan
fisik rencananya akan mulai pada Oktober 2012. Total investasi proyek ini mencapai
Rp 1,6 triliun. Sebanyak 70% investasi dibiayai dari pinjaman bank, sementara
30% dari ekuitas konsorsium. (Positive)

PT Intraco Penta Tbk (INTA)

PT Intraco Penta Tbk (INTA) di semester I-2011 telah mendapatkan pemesanan
438 unit alat berat. Perseroan memastikan dapat menjual 1.175 unit alat berat.
Perseroan hampir mencapai target penjualan di tahun ini sekitar 1.200 unit. Dengan
demikian, saat ini perseroan telah memastikan penjualan sekitar 91% dari target
2011. Nilai penjualan tersebut mencapai US$ 216 juta. (Positive)

Berita Tbk : AUTO, SMRA, SMGR, ASII, CPIN, ENRG, ASRI, KLBF, BMRI, BBCA, BBRI

Berita Perusahaan Tbk

PT Astra Otoparts Tbk (AUTO)

PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) membukukan laba bersih Rp 524,94 miliar di semester pertama tahun ini, Laba tersebut turun 12,9% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 602,38 miliar. Turunnya laba akibat tingginya beban usaha. Pendapatan usaha perseroan naik 17% menjadi Rp 3,56 triliun di paruh pertama tahun ini dari Rp 3,05 triliun di tahun sebelumnya. Namun, beban usaha yang naik lebih tinggi menjadi sebesar Rp 2,96 triliun dari sebelumnya Rp 2,49 triliun. (Negative)

PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) mencatat kenaikan laba bersih sebesar 52,5% di semester pertama tahun ini. Perseroan meraih laba bersih senilai Rp 155,349 miliar, dibandingkan laba periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 101,844 miliar. Kenaikan laba ditopang pertumbuhan pendapatan bersih sebesar 38,5% menjadi Rp 938,579 miliar di akhir Juni tahun ini. Laba perseroan juga ditopang dengan tambahan pemasukan dari pendapatan bunga. (Positive)

PT Semen Gresik Tbk (SMGR)

PT Semen Gresik Tbk (SMGR) mencatat laba sebesar Rp 1,897 triliun di semester I -2011 atau naik 15,67% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 1,64 triliun. Kenaikan laba tersebut didorong oleh pertumbuhan pendapatan . Pendapatan perseroan hingga Juni 2011 tercatat Rp 7,605 triliun naik 14,17% dari periode yang sama tahun lalu Rp 6,661 triliun. (Positive)

PT Astra International Tbk (ASII)

PT Astra International Tbk (ASII) mencetak laba bersih Rp 8,5 triliun pada semester I-2011, melonjak 33% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 6,4 triliun. Kenaikan itu ditopang oleh naiknya pendapatan hingga 24% menjadi Rp 76,2 triliun. (Positive)

PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN)

PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) berhasil mencetak laba bersih perseroan
sebesar Rp 1,256 triliun semester I-2011. Laba bersih perseroan tersebut naik
33,20% dibandingkan laba tahun sebelumnya pada periode yang sama sebesar Rp
943 miliar. Kenaikan laba bersih tersebut ditopang oleh kenaikan penjualan sebesar
26,27% menjadi Rp 8,781 triliun. (Positive)

PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG)

PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) membukukan pertumbuhan pendapatan sebesar
58% pada semester I-2011 menjadi Rp 865,5 miliar, dibandingkan periode yang
sama tahun lalu sebesar Rp 543,4 miliar. Kenaikan tersebut ditopang oleh peningkatan
produksi minyak dan gas. (Positive)

PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI)

PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI) berhasil mencatat laba bersih semester I-2011
sebesar Rp 289 miliar. Laba bersih tersebut naik 133,06% dibandingkan periode yang
sama tahun sebelumnya sebesar Rp 124 miliar. Kenaikan laba bersih tersebut ditopang
oleh kenaikan penjualan sebesar 78,3% menjadi Rp 706 miliar. (Positive)

PT Kalbe Farma Tbk (KLBF)

PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) memberikan laba bersih sebesar Rp 675 miliar pada
semester I-2011 atau naik 17% dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp 572
miliar. Kenaikan laba bersih tersebut ditopang oleh efisiensi yang terbukti dapat mengimbangi
kenaikan harga bahan baku. (Positive)

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI)

PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) berhasil mencatat laba bersih sebesar Rp 6,3 triliun.
Laba bersih tersebut naik 56,7% YoY. Kenaikan laba bersih tersebut disebabkan kenaikan
kredit 26,9% menjadi Rp 26,7 triliun. (Positive)

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)

PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) membukukan laba bersih sebesar Rp 4,8 triliun
per Juni 2011 atau naik 20,4% dari Rp 3,98 triliun tahun lalu. (Positive)

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI)

PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) membukukan laba bersih sebesar Rp 6,8
triliun. Laba bersih tersebut naik 58% YoY. Laba tersebut didukung oleh kenaikan pendapatan
bunga bersih sebesar 23,3%. (Positive)

Exit mobile version