Right Issue Saham atau Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu

Pengertian Right Issue Saham

Right Issue Saham atau Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu  (HMETD juga dikenal dengan istilah Right Issue adalah salah satu cara perusahaan yang sudah go public (terdaftar di bursa efek) untuk menghimpun dana tambahan dari pasar modal dengan cara menerbitkan saham baru.

Yang membedakan right issue dengan penerbitan saham biasa adalah:
Saham baru ini ditawarkan TERLEBIH DAHULU kepada para pemegang saham yang sudah ada (existing shareholders).

Bayangkan Anda adalah salah satu pemilik perusahaan. Ketika perusahaan butuh modal tambahan, ia akan menawarkan “kesempatan pertama” untuk menambah kepemilikan kepada Anda, pemilik lama, sebelum menawarkannya kepada orang lain. Ini adalah hak istimewa yang melekat pada kepemilikan saham.


Tujuan dan Alasan Dilakukannya Right Issue Saham

Perusahaan melakukan right issue biasanya untuk beberapa tujuan berikut:

  1. Ekspansi dan Pertumbuhan: Mendanai proyek ekspansi, seperti pembangunan pabrik baru, pembukaan cabang, atau akuisisi perusahaan lain.

  2. Restrukturisasi Utang: Melunasi atau mengurangi utang perusahaan (debt refinancing) untuk memperbaiki struktur permodalan dan menurunkan beban bunga.

  3. Meningkatkan Modal Kerja: Menambah kas perusahaan untuk membiayai operasional sehari-hari.

  4. Memperbaiki Kesehatan Keuangan: Meningkatkan rasio keuangan seperti debt-to-equity ratio.


Mekanisme dan Cara Kerja Right Issue Saham

  1. Pengumuman: Perusahaan mengumumkan rencana right issue kepada publik melalui Bursa Efek Indonesia (BEI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

  2. Rasio Right Issue: Perusahaan menentukan rasio penawaran. Misalnya, 3 : 1 yang artinya untuk setiap 3 saham lama yang dimiliki, pemegang saham berhak membeli 1 saham baru.

  3. Harga Right Issue: Perusahaan menetapkan harga untuk saham baru tersebut. Harga ini biasanya lebih rendah dari harga pasar saham tersebut (discounted price) untuk membuat penawaran ini menarik.

  4. Pelaksanaan: Pemegang saham lama akan menerima “surat hak” atau right yang memberi mereka wewenang untuk membeli saham baru sesuai dengan rasio dan harga yang telah ditetapkan.

  5. Pilihan bagi Pemegang Saham:

    • Menggunakan Hak (Exercise the Rights): Membeli saham baru sesuai dengan jatahnya.

    • Menjual Hak (Renounce the Rights): Hak tersebut dapat dijual di bursa efek selama periode perdagangan hak berlangsung. Dengan menjual right, investor tetap mendapatkan keuntungan dari selisih harga.

    • Tidak Melakukan Apa-apa (Lapse): Jika investor tidak menggunakan atau menjual haknya, hak tersebut akan hangus setelah periode berakhir.


Contoh Ilustrasi yang Sederhana

Anda memiliki 600 lembar saham PT ABC.

  • Harga pasar saham ABC: Rp 2.000 per lembar.

  • Perusahaan mengumumkan right issue dengan rasio 3 : 1 dan harga right Rp 1.500 per saham.

Perhitungan:

  • Jatah Hak Anda: (600 / 3) x 1 = 200 saham baru.

  • Dana yang Diperlukan: 200 saham x Rp 1.500 = Rp 300.000.

Pilihan Anda:

  1. Membeli: Anda mengeluarkan Rp 300.000 untuk mendapatkan 200 saham baru. Total kepemilikan Anda menjadi 800 saham.

  2. Menjual Hak: Jika harga “hak”-nya di bursa adalah Rp 400, Anda bisa menjual 200 hak tersebut dan mendapatkan 200 x Rp 400 = Rp 80.000.

  3. Membiarkan hangus: Anda kehilangan kesempatan, dan kepemilikan saham Anda akan terdilusi (mengecil secara persentase).


Keuntungan dan Kerugian Right Issue Saham

Bagi Perusahaan:

  • Kelebihan: Cara yang relatif cepat untuk mendapatkan modal tanpa perlu menambah utang dan bunga.

  • Kekurangan: Dapat menyebabkan dilusi atau penurunan nilai Earnings Per Share (EPS) jika laba tidak tumbuh secepat penambahan jumlah saham.

Bagi Investor:

  • Kelebihan:

    • Dapat menambah kepemilikan saham dengan harga yang lebih murah.

    • Hak yang tidak digunakan bisa dijual untuk mendapat untung.

    • Menunjukkan perusahaan punya rencana growth yang membutuhkan modal.

  • Kekurangan:

    • Jika tidak ikut right issue, persentase kepemilikan saham akan terdilusi.

    • Harus mengeluarkan uang tambahan jika ingin mempertahankan proporsi kepemilikan.

    • Harga saham di pasar seringkali turun sementara setelah pengumuman right issue karena adanya penawaran saham baru dengan harga lebih murah.

Kesimpulan

Right Issue adalah mekanisme yang adil karena memberikan hak pertama kepada pemegang saham lama untuk menjaga proporsi kepemilikannya dalam perusahaan. Bagi investor, keputusan untuk ikut right issue atau tidak harus didasarkan pada analisis terhadap alasan perusahaan mencari dana dan prospek perusahaan ke depan. Jika dana tersebut digunakan untuk proyek yang profitable, right issue bisa menjadi sinyal positif untuk jangka panjang.

Right Issue INET (Sinergi Inti Andalan Prima Tbk.) 2025

Right Issue INET (Sinergi Inti Andalan Prima Tbk.) akan dilakukan melalui HMETD di bulan November 2025 dengan harga pelaksanaan Rp. 250 . Tujuan Right Issue INET adalah untuk menambah modal perusahaan. Jumlah saham baru yang diterbitna sebanyak 12.800.000.000 lembar atau 57,14% dari modal yang ditempatkan penuh. Nilai Emisi yang diharapkan sebanyak-banyaknya 3,2 trilyun rupiah.

Right Issue INET (Sinergi Inti Andalan Prima Tbk.)

Perseroan berencana untuk menerbitkan HMETD sebanyak-banyaknya 12.800.000.000 (dua belas miliar delapan ratus juta) saham biasa atas nama dengan nilai  nominal Rp10 ,- (sepuluh Rupiah) setiap saham yang mewakili sebanyak-banyakanya 57,14% (lima puluh tujuh koma satu empat persen) dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah PMHMETD. Setiap pemegang 3 (tiga) Saham Lama yang namanya tercatat dalam Daftar Pemegang Saham Perseroan pada tanggal 27 November 2025 pukul 16.00 WIB berhak atas 4 (empat) HMETD, dimana setiap 1 (satu) HMETD memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli sebanyak 1 (satu) Saham Baru dengan Harga Pelaksanaan Rp250,- (dua ratus lima puluh Rupiah) setiap saham yang harus dibayar penuh pada saat mengajukan Formulir Pemesanan dan Pembelian Saham. Jumlah dana yang akan diterima Perseroan dalam PMHMETD ini sebanyak-banyaknya Rp3.200.000.000.000,- (tiga triliun dua ratus miliar Rupiah).

Rencana Jadwal PMHMETD I  Right Issue INET 

Berikut Rencana Jadwal PMHMETD I  Right Issue INET.

Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa : 12-Jun-25
Tanggal Pernyataan Pendaftaraan menjadi Efektif* : 17-Nov-25
Tanggal Terakhir Perdagangan Saham dengan HMETD di:    
–    Pasar Reguler dan Negosiasi : 25-Nov-25
–    Pasar Tunai : 27-Nov-25
Tanggal Mulai Perdagangan Saham Tanpa HMETD:    
–    Pasar Reguler dan Negosiasi : 26-Nov-25
–     Pasar Tunai : 28-Nov-25
Tanggal Pencatatan dalam DPS yang berhak atas HMETD : 27-Nov-25
Tanggal Distribusi SBHMETD : 28-Nov-25
Tanggal Pencatatan SBHMETD di BEI : 01-Des-25
Awal Perdagangan SBHMETD : 01-Des-25
Akhir Perdagangan SBHMETD : 05-Des-25
Periode Pelaksanaan HMETD : 01-Des-25
Periode Penyerahan Saham Hasil Pelaksanaan HMETD : 03-Des-25
Tanggal Akhir Pembayaran Pemesanan Saham Tambahan : 08-Des-25
Tanggal Penjatahan atas Pemesanan Saham Tambahan : 09-Des-25
Tanggal Pengembalian Uang Pemesanan Saham Tambahan : 11-Des-25
Tanggal Awal Perdagangan Waran Seri II : 03-Des-25
Tanggal Akhir Perdagangan Waran Seri II :    
-Pasar Reguler dan Negosiasi : 31-Mei-28
-Pasar Tunai : 02-Jun-28
Tanggal Awal Pelaksanaan Waran Seri II : 03-Jun-26
Tanggal Akhir Pelaksanaan Waran Seri II : 03-Jun-28
Tanggal Akhir Masa Berlaku Waran Seri II : 03-Jun-28

Informasi PMHMETD I  Right Issue INET 

  1. Jumlah Saham Baru : Sebanyak-banyaknya 12.800.000.000 (dua belas miliar delapan ratus juta) lembar saham biasa atas nama yang mewakili 57,14% (lima puluh tujuh koma satu empat persen) dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah PMHMETD I.
  2. Nilai Emisi PMHMETD I : Sebanyak-banyaknya Rp3.200.000.000.000,- (tiga triliun dua ratus miliar Rupiah)..
  3. Rasio HMETD : 3 : 4 yaitu dimana setiap pemegang 3 (tiga) Saham Lama berhak atas 4 (empat) HMETD, di mana 1 (satu) HMETD berhak untuk membeli 1 (satu) Saham
  4. Harga Pelaksanaan HMETD :  Rp250,- (dua ratus lima puluh Rupiah) setiap
  5. Hak atas Saham Baru : Saham Baru ini mempunyai hak yang sama dan sederajat dalam segala hal dengan saham biasa atas nama lainnya yang telah ditempatkan dan disetor penuh dalam Perseroan termasuk tetapi tidak terbatas pada hak suara, hak dalam pembagian dividen, dan hak atas sisa hasil likuidasi, HMETD dan hak atas pembagian saham bonus.
  6. Dilusi Setelah HMETD : Bagi yang tidak melaksanakan HMETD, dilusi sampai dengan maksimum sebesar 57,14% (lima puluh tujuh koma satu empat persen) dari total porsi kepemilikan saham dari masing-masing pemegang saham pada saat pelaksanaan HMETD.
  7. Pembeli Siaga : PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara (“AKUN”) selaku Pemegang Saham Pengendali Perseroan menyatakan kesediaannya untuk menjadi Pembeli Siaga dalam PMHMETD I Perseroan.
  8. Jumlah dan Nilai Pembeli Siaga :  Berdasarkan Akta Perjanjian Pembelian Sisa Saham

Dalam Rangka Penawaran Umum Untuk Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu I PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk No.1.329 tanggal 19 September 2025 yang dibuat dihadapan Mohamad Fajri Mekka Putra, SH., M.Kn., Notaris di Jakarta Selatan, AKUN (“Pembeli Siaga”) telah menyatakan sanggup menjadi Pembeli Siaga jika Saham Baru yang ditawarkan dalam PMHMETD I ini tidak seluruhnya diambil bagian oleh pemegang saham atau pemegang HMETD, dengan jumlah saham sebanyak-banyaknya 5.652.377.067 (lima miliar lima ratus enam puluh dua juta tiga ratus tujuh puluh tujuh ribu enam puluh tujuh) saham pada Harga Pelaksanaan sebesar Rp250,- (dua ratus lima puluh Rupiah) setiap saham dengan nilai sebanyak- banyaknya Rp1.413.094.266.750,- (satu triliun empat ratus tiga belas miliar Sembilan puluh empat juta dua ratus enam puluh enam ribu tujuh ratus lima puluh Rupiah)

  1. Rasio Waran Seri II : 25 : 6 yaitu dimana setiap pemegang 25 (dua puluh lima) Saham Hasil Pelaksanaan HMETD berhak atas 6 (enam) Waran Seri II, di mana 1 (satu) Waran Seri II berhak untuk membeli 1 (satu) Saham Baru.
  2. Jumlah Waran Seri II : Sebanyak-banyaknya 072.000.000 (tiga miliar tujuh puluh dua juta) lembar saham biasa atas nama.
  3. Nilai Emisi Waran Seri II :  Sebanyak-banyaknya                 Rp 600.000.000,-

(sembilan ratus dua puluh satu miliar enam ratus juta Rupiah).

  1. Penggunaan Dana Hasil PMHMETD I :               Sekitar Rp2.800.000.000.000,- (dua triliun delapan ratus miliar Rupiah) untuk penyetoran modal kepada Perusahaan Anak, GPI yang mana akan digunakan oleh GPI untuk pengembangan jaringan Fiber To The Home (FTTH) berkecepatan tinggi dengan tenologi Wi-Fi 7 sebanyak 2 Juta Pelanggan di Pulau Bali dan Lombok;
  1. Sekitar 444.000.000,- (dua ratus tiga belas miliar empat ratus empat puluh empat juta Rupiah) untuk penyetoran modal kepada Perusahaan Anak, PFI yang mana akan digunakan oleh PFI untuk melunasi biaya Indefeasible Right of Use (IRU) Jaringan kabel bawah laut (Submarine Cable) kepada PT JMP.
  2. Sekitar Rp135.000.000.000,- (serratus tiga puluh lima miliar Rupiah) untuk penyetoran modal kepada Perusahaan Anak, IAB yang mana akan digunakan oleh IAB untuk modal kerja dalam mengerjakan pembangunan Fiber To The Home (FTTH) di Pulau Jawa dimana IAB memberikan Jasa Penggelaran dengan lingkup kerja antara lain jasa observasi, survei, design, proses implementasi/roll out pembangunan serta manage service dan troubleshooting.
  3. Sisanya akan digunakan sebagai modal kerja Perseroan, termasuk namun tidak terbatas untuk biaya pembelian perlengkapan penunjang,                                    biaya pengembangan layanan, biaya pemasaran, biaya pelatihan serta biaya overhead
  1. Periode Perdagangan HMTED :     1 – 5 Desember 2025
  2. Periode Pelaksanaan HMTED :     1 – 5 Desember 2025
  3. Periode Perdagangan Waran Seri II :     3 Desember 2025 – 1 Desember 2028
  4. Periode Pelaksanaan Waran Seri II :     3 Juni 2026 – 1 Desember 2028

Bahwa sehubungan dengan pelaksanaan PMHMETD I Perseroan, bahwa PT Abadi Kreasi Unggul Nusantara selaku pemegang 5.360.707.200 (lima miliar tiga ratus enam puluh juta tujuh ratus tujuh ribu dua ratus) atau setara dengan dengan 60,62% (enam puluh koma enam dua persen) saham Perseroan menyatakan akan melaksanakan seluruh HMETD yang akan diperoleh yaitu sejumlah 7.147.609.600 (tujuh miliar serratus empat puluh tujuh juta enam ratus sembilan ribu enam ratus) HMETD yang dimilikinya melalui Surat Pernyataan tanggal 19 September 2025 dengan

Harga Pelaksanaan sebesar Rp250,- (dua ratus lima puluh Rupiah) sehingga keseluruhan AKUN akan melaksanakan Pelaksanaan HMETD sejumlah Rp1.786.902.400.000,- (satu triliun tujuh ratus delapan puluh enam miliar Sembilan ratus dua juta empat ratus ribu Rupiah).

Sumber Right Issue INET 2025: Pengumuman INET di BEI

 

 

Right issue saham SUPR ( Solusi Tunas Pratama Tbk )

PT Solusi Tunas Pratama Tbk ( kode saham SUPR ) akan menerbitkan saham baru guna menambah modal dengan menerbitkan HMETD ( Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu ) atau sering juga disebut dengan Right Issue. Adapun jadwal right issue saham SUPR adalah sebagai berikut :

Right issue saham SUPR

No. Kode Efek Nama Efek Jenis Kegiatan Kode Right Harga Exercise Effective Date
1. SUPR SOLUSI TUNAS PRATAMA Tbk Right Issue Rasio Setiap 125Saham lama yang dimiliki dapat 54 HMETD/Right (125: 54 ) SUPR-R Rp 7.000.- persaham 07 – 14 Januari 2015

EPS yang menyesatkan (Basic EPS versus Diluted EPS)

Seringkali media memberitakan EPS yang menyesatkan dari suatu laporan keuangan perusahaan. EPS (earning per share) atau laba per lembar saham merupakan hal terpenting dalam analisis fundamental saham untuk mengukur kinerja perusahaan. Untuk menganalisa fundamental saham, EPS ada diposisi pertama yang harus dilihat.  Untung dan rugi perusahaan langsung tercermin dalam EPS. Nilainya negatif berarti perusahaan rugi, kalau nilainya positif berarti perusahaan untung.  Saya akan langsung mengabaikan saham yang EPS nya negatif. Pertanyaan yang muncul adalah berapa sesungguhnya EPS perusahaan?

EPS yang menyesatkan (Basic EPS versus Diluted EPS)

EPS (earning per share) atau laba per lembar saham merupakan hal terpenting dalam analisa fundamental untuk mengukur kinerja perusahaan.

Analisa dalam blog ini sesungguhnya adalah cerminan saham-saham apa saja yang saya beli (saya beli saham  berdasarkan analisa saya sendiri).  Dalam beberapa analisa yang saya buat, saya ada yang keliru dalam menggunakan EPS.  Ada sistem yang memberikan data fundamental perusahaan. Namun sistem itu sendiri ternyata kadang tidak akurat. Hal yang paling baik adalah dengan langsung membaca SOFT COPY laporan keuangan (butuh kerja ekstra) yang dipublikasikan oleh tiap-tiap perusahaan publik yang bisa di download di website BEI.

Menghitung EPS rumusnya hanya pembagian sederhana :

EPS = laba bersih / jumlah saham beredar

Pertanyaannya adalah, berapa sesungguhnya saham yang beredar???.

Total saham beredar

Ada beberapa hal yang menyebabkan terjadinya perubahan jumlah saham beredar dibandingkan saat perusahaan tersebut dibentuk.  Berikut aksi koporasi (cooporate action) yang menyebabkan total saham beredar bertambah :

  1. Awal. Ini merupakan jumlah saham beredar pertama kali perusahaan dibentuk melalui akte notaris.
  2. IPO (initial publik offering).  Ini adalah saat pertama kali perusahaan menjual (menerbitkan saham baru) di bursa saham.
  3. Right issue.  Ini adalah aksi perusahaan dengan menerbitkan saham baru (setelah perusahaan melantai di bursa) untuk tujuan menambah permodalan perusahaan.
  4. ESOP (Employee Stock Ownership Plan). Ini merupakan bentuk bonus yang dibagikan perusahaan kepada karyawan.
  5. Warrant. Warrant merupakan suatu opsi kepemilikan yang bisa ditukar menjadi saham. Biasanya saat melakukan right issue, perusahaan penerbit memberikan bonus berupa warrant bagi yang mau menebus HMETD (hak memesan efek terlebih dahulu) dari right issue tersebut.
  6. Convertible bond.  Ini adalah jenis hutang yang memungkinkan ditukar menjadi saham saat hutang jatuh tempo.

EPS yang menyesatkan dilaporkan media dan yang tertulis dilaporan keuangan

Media sangat cepat memberitakan EPS perusahaan. Namun sang penulis belum tentu benar-benar memahami tentang EPS.  Kadang pemberitaan juga memiliki maksud terselubung (mengelabui). Belum pernah saya membaca atau mendengar media menyebutkan EPS basic atau EPS diluted. Hanya diberitakan EPS saja. Disinilah letak masalah yang “bisa menyesatkan”.

Ilustrasi

Misalkan diawal tahun 2011 saham perusahaan yang beredar adalah 1.000.000.000 (satu milyar) lembar.

Lalu pada tanggal 1 Desember 2011 perusahaan melakukan right issue dengan menerbitkan 5.000.000.000 (lima milyar) lembar saham baru.

Di tahun 2012 perusahaan melaporkan bahwa laba bersih yang diperoleh selama tahun 2011 adalah Rp 700.000.000.000 (tujuh ratus milyar rupiah).

Berapakah EPS perusahaan tersebut???

Dalam laporan keuangan yang dilaporkan perusahaan publik ada yang hanya menyebutkan :

  • Laba per saham dasar (Basic earning per share)

Ada juga perusahaan publik yang menyebutkan sekaligus:

  • Laba per saham dasar (Basic earning per share) dan
  • Laba per saham terdilusi (diluted earning per share)

A. Laba per saham dasar (basic earning per share)

Laba per saham dasar dari ilustrasi diatas adalah membagi laba bersih dengan rata-rata tertimbang (weighted average)  dari jumlah saham beredar.

Saham awal : 1 milyar lembar selama 365 hari (1 Januari 2011 hingga 31 Desember 2011)

Saham right issue : 5 milyar lembar selama 31 hari (1 Desember 2011 hingga 31 Desember 2011)

Total rata-rata saham beredar: = [ ( 1 milyar x 365) + (5 milyar x 31) ] / [365+31] = 520 milyar / 396 = 1.313.131.313

Sehingga kita akan dapatkan Laba Per Saham Dasar : = 700.000.000.000 / 1.313.131.313 = Rp 533,08

B. Laba per saham terdilusi (diluted earning per share)

Jumlah saham beredar secara faktual adalah dengan menjumlahkan  seluruh saham tanpa memandang berapa lama saham itu diterbitkan.  Secara fakta, per 31 Desember 2011 jumlah saham yang beredar adalah 1 milyar lembar ditambah 5 milyar lembar sehingga total menjadi 6 milyar lembar.

Sehingga laba per saham terdilusi: = 700.000.000.000 / 6.000.000.000 = Rp 117

Ada perbedaan yang sangat mencolok dalam angka EPS antara basic dengan diluted.  Pada masa tahun-tahun berikutnya eps tentunya akan dihitung dengan keseluruhan jumlah saham beredar tesebut (karena keduanya akan sama-sama dihitung berumur 365 hari). Basic EPS mungkin berguna bagi manajemen perusahaan dalam mengukur kinerja nya tahun itu, tetapi bagi anda investor analisa yang benar  adalah menggunakan diluted EPS demi mengantisipasi kinerja perusahaan diwaktu mendatang karena bagaimanpun laba akan dibagi untuk seluruh kepemilikan saham.

Seandainya pada tahun sebelumnya ditahun 2010 perusahaan maleporkan EPS (basic maupun diluted) sebesar Rp 150 (seratus lima puluh rupiah) anda akan tercengang dengan kenaikan fantastis dari EPS yang diberitakan di media :

  • EPS growth (basic) =( 533,08 – 150 ) / 150 = 255,4 %
  • EPS growth (diluted) = ( 177 – 150 ) / 150 = 18 %

dan media akan memberitakan kira-kira seperti ini:

EPS perusahaan ABCD sepanjang 2011 terbang sebesar 255,4 %

dan itu sangat menyesatkan bagi investor.

Exit mobile version