EPS 2011 United Tractor Tbk (UNTR) melesat 42%

Kinerja UNTR 2011

Sepanjang 2011, PT United Tractors Tbk (UNTR) berhasil membukukan laba bersih sekitar Rp5,90 triliun. Angka ini mengalami pertumbuhan sekitar 52% dibanding dengan periode tahun sebelumnya sebesar Rp3,87 triliun.

Menurut Sekretaris Perusahaan UT Sara K. Loebis, pertumbuhan ini didukung oleh kenaikan dari pendapatan bersih konsolidasi sebesar 48% dari Rp37,32 triliun menjadi Rp55,05 triliun.

Kenaikan pendapatan dicapai berkat peningkatan tajam pada volume penjualan alat berat yang disumbangkan oleh unit alat berat dengan kontribusi 49,4%, serta peningkatan produksi batubara PT Pamapersada Nusantara dengan kontribusi sekitar 40,7%.

“Sedangkan sisanya sebesar 9,9% disumbang oleh unit usaha pertambangan yang dijalankan oleh PT Prima Multi Mineral dan PT Tuah Turangga Agung,” kata Sara dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Senin (27/2).

Laba per lembar saham atau earning per share (EPS) juga meningkat sebesar 42,4% dari Rp1.164 di tahun 2010 menjadi Rp1.657 di tahun 2011.

Kondusifnya perekonomian nasional, sambungnya, membuat nilai tukar rupiah relatif terjaga, serta kondisi cuaca yang normal mendukung optimalisasi operasi di unit usaha kontraktor pertambangan dan penambangan.

Perseroan mampu memanfaatkan peluang di sektor-sektor pengguna alat berat yang terus bertumbuh, sehingga sepanjang 2011 segmen usaha mesin konstruksi kembali mencatat prestasi dengan memecahkan rekor volume penjualan alat berat Komatsu sekitar 8.467 unit, melonjak 57% dari volume tahun sebelumnya 5.404 unit.

Peningkatan ini juga diikuti oleh peningkatan volume penjualan alat berat di Indonesia menjadi 17.360 unit dari angka 11.781 unit di 2010. Dari total volume penjualan unit tersebut, porsi penjualan terbesar masih dikontribusikan oleh sektor pertambangan, yakni 67%, disusul perkebunan 17%, sektor konstruksi dan kehutanan masing-masing 10% dan 6%.

“Perseroan juga berhasil meningkatkan penjualan suku cadang dan jasa pemeliharaan alat berat tumbuh 18% dari nilai pendapatan tahun sebelumnya,” tuturnya.

Dari sisi bisnis kontraktor penambangan, meningkatnya permintaan dan harga batubara membuat aktivitas di sektor ini terus meningkat.

Pama mampu merespon permintaan jasa penambangan batubara dengan mencatat peningkatan produksi batubara sebesar 11%, serta kenaikan volume pemindahan tanah sebesar 22%, atau dari 77,9 juta bcm dan 651,5 juta bcm pemindaan tanah menjadi 86,8 juta bcm batubara dan 791,7 juta bcm pemindahan tanah.

“Pada bisnis ini tambang batubara, perseroan mampu meningkatkan kapasitas produksinya dan membukukan kenaikan volume penjualan batubara dari 3,1 juta ton menjadi 4,5 juta ton,” tutupnya.

Sumber : Indonesia Market Quote, Bursa Efek Indonesia

Anomali pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Jumat 24 Februari 2012

Anomali pasar di Bursa Efek Indonesia
Hari Jum’at kemaren terjadi anomali di Bursa Efek Indonesia. Bursa saham regional rata-rata mengalami kenaikan. Sementara Bursa Indonesia mengalami penurunan cukup tajam yang ditutup melemah 1.6% (terendah lebih dari 2%).

Berita yang beredar dikalangan para broker di bursa menyebutkan :

CLSA hari ini menurunkan bobot Indonesia 2% dari 8% ke 6% karena alasan PE kemahalan dan melakukan pemindahan aset ke Thailand dan Malaysia. PE Indonesia 14X sama dengan PE bursa Amerika. PE Thailand dan Malaysia 12X

Kalau dilihat dari grafik indek composite (IHSG), sebelum anomali pasar terjadi (penutupan sehari sebelumnya), situasi (tren) memang ragu-ragu. Jika seseorang (institusi) memiliki peluru besar, maka akan lebih mampu mengarahkan situasi (diarahkan turun dulu dengan melakukan penjualan besar-besaran atau menaikkkan tren dengan melakukan pembelian besar-besaran).

Jadi secara umum hanya faktor teknikal sementara yang dimotori oleh salah satu institusi, dan diikuti (karena terpengaruh) oleh yang lain. Secara teknikal support indeks ada di 3830.

Faktor PE yang dicuatkan (rumor yang diedarkan) bukanlah faktor utama. Faktor SHORT-SELL yang terlihat dominan. PE tidak dominan karena PE tidak memcerminkan Opportunity Growth dari sebuah bursa di suatu negara. Sebagai iluastrasi, PGAS diawal tahun 2007 memiliki PE sekitar 80 pada harga 1500, sebelum akhirnya harga nya bergerak cepat keatas 13.000 (kemudian stock split).

Bagi investor yang bergaya swing trade, situasi ini semakin spekulatif. Bagi real investor, situasi ini akan dianggap sebagai shake out (guncangan sesaat).

Kencangkan ikat pinggang dan tarik nafas dalam-dalam 😀

Berita BNII (PT Bank International Indonesia Tbk) : kinerja 2011

PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BNII) membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp 669 miliar pada 2011, naik 45% dibandingkan Rp 461 miliar pada 2010. Pertumbuhan laba bersih ini jauh melebihi rata-rata pertumbuhan laba bersih bank umum sepanjang 2011 yang tercatat hanya 31%.

Kinerja yang membaik itu didorong oleh pertumbuhan yang solid pada bisnis inti perseroan, perbaikan kualitas aset dan perbaikan seluruh operasional. Perseroan terus membukukan pertumbuhan kredit yang kuat sepanjang 2011 dengan pertumbuhan kredit konsolidasi sebesar 25%, dari Rp 53,6 triliun per Desember 2010 menjadi Rp 67,2 triliun per Desember 2011.

Berita BNGA (PT Bank CIMB Niaga Tbk): kinerja 2011

PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) berhasil mencetak laba bersih konsolidasi sebesar Rp 3,17 triliun sepanjang 2011. Pencapaian tersebut meningkat 24,31% dibandinkan tahun sebelumnya yang tercatat Rp 2,55 triliun. Kenaikan laba bersih itu ditopang oleh pertumbuhan penyaluran kredit dan peningkatan laba operasional perseroan.

Laba operasional perusahaan pada 2011 tumbuh 16,64% dari Rp 8,89 triliun pada 2010 menjadi Rp 10,37 triliun pada 2011. Laba bersih perusahaan itu juga didukung oleh pendapatan bunga bersih yang sebesar Rp 7,92 triliun, meningkat 8,19% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar Rp 7,32 triliun. Realisasi kredit tercatat sebesar Rp 125,7 triliun. Jumlah tersebut naik 19,83% dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar Rp 104,89 triliun.

Berita ITMG (PT Indo Tambangraya Megah Tbk): kinerja 2011

PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) membukukan laba bersih sebesar US$ 546 juta pada 2011 atau melonjak 167% dibandingkan 2010 senilai US$ 204 juta. Kenaikan itu dipicu peningkatan pendapatan sebesar 43% menjadi US$ 2,3 miliar dari US$ 1,6 miliar. Adapun laba bersih per saham mencapai US$ 0,48 atau Rp 4,320 dari sebelumnya US$ 0,18. Lonjakan laba bersih perseroan didorong oleh peningkatan volume penjualan batubara dan harga jual rata-rata.

Tahun ini, perseroan menargetkan produksi naik 8% menjadi 27 juta ton. Tandung Mayang dan Bharinto akan menjadi motor pertumbuhan produksi. Perseroan juga berniat untuk mempertahankan rasio dividen 75% untuk tahun buku 2011. Rasio ini digunakan perseroan dalam membagikan dividen interim 2011. Perseroan akan membagikan dividen interim untuk tahun buku 2011 sebesar Rp 1,3 triliun atau setara dengan Rp 1,168 per saham. Perseroan juga menyiapkan belanja modal sebesar US$ 223 juta pada 2012. Dana capex berasal dari kas internal. Dana tersebut akan digunakan untuk keperluan anak usaha dan konsesi pertambangan.

Exit mobile version