PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) diestimasi dapat membukukan kenaikan laba bersih 2011 lebih dari 15% atau di atas Rp 10,6 triliun dibanding realisasi 2010 sebesar Rp 9,22 triliun.
Peningkatan itu ditopang oleh kenaikan pendapatan bunga bersih, pendapatan berbasis biaya (fee based income) serta restrukturisasi aset. Pada tahun 2011 perseroan diperkirakan membukukan pertumbuhan kredit konsolidasi sebesar Rp 315,14 triliun dibanding Rp 246,2 triliun pada 2010.
PT BW Plantation Tbk (BWPT) menargetkan produksi CPO pada tahun ini 130,812 ton, naik 25% dari total produksi yang diestimasi tahun lalu 104,650 ton. Target tersebut telah menyesuaikan dengan rencana perseroan memperbesar kapasitas produksi seiring dengan beroperasinya pabrik baru. Perseroan telah membangun pabrik kelapa sawit di Kalimantan Timur, tepatnya di Desa Senyiur dengan kapasitas produksi minyak sawit mentah 60 ton per jam.
Pengoperasian Pabrik BWPT
PT BW Plantation Tbk (BWPT) juga akan mengoperasikan pabrik yang dibangun sejak tahun lalu berkapasitas 30 ton per jam di Kalimantan Tengah pada kuartal I/2012, dimana pabrik ini menghabiskan dana sekitar Rp 60 miliar.
PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) menargetkan pangsa pasar 32%-33% dari total pasar semen nasional yang diperkirakan mencapai 52 juta ton di 2012. Perseroan menargetkan pertumbuhan penjualan tahun ini seiring tumbuhnya konsumsi semen
di pasar domestik.
Hingga akhir 2011 volume penjualan perseroan telah melampaui target. Hal itu disebabkan pertumbuhan konsumsi semen domestik yang juga tinggi. Perseroan tahun lalu menargetkan pangsa pasar sebesar 31% dari total penjualan semen nasional. Realisasi penjualan semen sepanjang 2011 mencapai 49,2 juta ton atau tumbuh 12,8% dibanding penjualan 2010. Saat ini, kapasitas produksi perseroan adalah sebesar 18,6 juta ton semen per tahun.
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) memproyeksikan harga jual rata-rata emas tahun ini relatif sama dengan tahun lalu, yakni di harga US$ 1250 per ounces. Proyeksi tersebut mempertimbangkan kemungkinan masih tertekannya harga emas dunia sepanjang paruh pertama 2012. Perseroan tidak akan mematok harga emas terlalu tinggi karena melihat kondisi pasar yang masih fluktuatif. Perseroan tahun ini menargetkan produksi emas 3,1 ton, naik tipis dari tahun lalu 3 ton. Sedangkan, penjualan emas diprediksi naik 32% menjadi 7 ton dari target tahun lalu sekitar 5,3 ton. Volume penjualan 7 ton tersebut termasuk emas yang berasal dari pihak ketiga.
Kinerja ANTM 2012
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) memprediksikan kinerja tahun 2012 akan menyusut. Ini disebabkan mandeknya pengoperasian pabrik feronikel perseroan di Pomala, Sulawesi Tenggara. Tambang feronikel yang akan beroperasi adalah produksi unit Feni II. Perseroan melakukan perbaikan mulai sejak akhir tahun lalu yakni meliputi atap dan dinding areal pertambangan. Rencananya, perbaikan pabrik feronikel ini akan selesai pada kuartal pertama tahun 2012. Selama ini, Feni II bisa menghasilkan feronikel sekitar 500 ton per bulan. Namun, perseroan tetap optimis tahun ini bisa menjual hingga 6,6 ton emas. Adapun estimasi harga masih sama seperti harga rata-rata tahun 2011 sebesar US$ 1.250 per ton.
Bursa saham . Sudahkan kejatuhannya mencapai “bottom”?
Tentu masih teringat bagaimana kejatuhan bursa saham yang dimulai bulan Oktober 2007. Pelaku bursa saham berdarah-darah (termasuk saya hehe). Mungkinkah kita bisa belajar dari kejadian tahun 2007 itu? Coba kita ingat kembali kejadian tahun 2007. Terpaan di bursa saham sudah dimulai pada Juni 2007.
Kasus macetnya kredit di sektor perumahan di Amerika Serikat yang lebih dikenal dengan Suprime Morgage mulai mencuat. Ini membuat indeks Dow Jones dari 14.121 terjungkal sekitar 11.8% hanya dalam 2 minggu. Namun pelaku pasar keliatannya masih belum waspada dan menganggap isu Suprime Morgage hanya temporer. Ini membuat indeks Dow Jones kembali naik selama 2 minggu kemudian dan bahkan mencapai titik tertinggi baru (new high) di 14.279. Namun efek domino dari Suprime Morgage mulai terasa. Yang pertama terkena imbas adalah sektor keuangan yang secara langsung menyalurkan Suprime Morgage. Ada yang bangkrut, ada yang rugi besar. Kita bisa menyebut Bank of Amerca, Citibank, Merryl Linch, JP Morgan, Wells Fargo dan banyak lagi. Efek domino juga berantai kepada persoalan hutang dibeberapa negara. Sebut saja Spanyol, dan Yunani. Ini menyebabkan bursa saham benar-benar terhempas tajam selama kurun waktu hampir 1.5 tahun. Dow Jones terdiskon lebih dari 50%. Pemerintahan Amerika Serikat dibawah Presiden George Bush sampai harus menyiapkan dana talangan (bailout) hampir 2000 milyar dollar (2 trilyun dollar) demi menenangkan situasi.
Awal Mei 2011, Dow Jones kembali tersedak. Berbagai isu fundamental di Amerika Serikat kembali membuat indeks Dow Jones terpuruk. Selama lebih kurang 6 bulan, Dow Jones sudah terpental lebih dari 18%.
Kondisi penyebab kali ini mungkin berbeda. Situasi ekonomi berbagai negara juga mungkin sudah lain. Namun perilaku pelaku bursa saham tetap sama. Eforia dikala bursa saham naik sahut menyahut. Terbirit-birit (panik) dikala bursa saham turun drastis. Kondisi efek domino juga terjadi disebabkan oleh margin call (permintaan injeksi dana terhadap nasabah bursa saham yang menggunakan uang pinjaman dari sekuritas)
Apapun komentar orang di bursa saham tentang situasi saat ini, grafik selalu dapat memberi perspektif cukup banyak. Gambar diatas sengaja saya komparasikan untuk menunjukkan bahwa kemungkinan besar penurunan masih akan berlanjut. Sejauh mana penurunan akan terjadi, biarlah bursa saham sendiri (melalui grafiknya) yang memberi tahu. Bagi yang masih berada didalam, selamat berolahraga jantung. Bagi yang sudah diluar bursa saham (sudah menjual atau melikuidasi seluruh sahamnya), silahkan nikmati dulu tamasya anda. Di bursa saham selalu berlaku “panas setahun di hapus oleh hujan sehari”.