PT BW Plantation Tbk (BWPT) menargetkan produksi CPO pada tahun ini 130,812 ton, naik 25% dari total produksi yang diestimasi tahun lalu 104,650 ton. Target tersebut telah menyesuaikan dengan rencana perseroan memperbesar kapasitas produksi seiring dengan beroperasinya pabrik baru. Perseroan telah membangun pabrik kelapa sawit di Kalimantan Timur, tepatnya di Desa Senyiur dengan kapasitas produksi minyak sawit mentah 60 ton per jam.
Pengoperasian Pabrik BWPT
PT BW Plantation Tbk (BWPT) juga akan mengoperasikan pabrik yang dibangun sejak tahun lalu berkapasitas 30 ton per jam di Kalimantan Tengah pada kuartal I/2012, dimana pabrik ini menghabiskan dana sekitar Rp 60 miliar.
Saham HEXA menunjukkan kinerja yang sangat baik dan kontinyu selama 5 tahun berturut-turut. EPS (earning per share atau laba per lembar saham) selalu naik. Disisi pendapatan (penjualan) selama 5 tahun berturut-turut juga terus naik. Laba operasi juga naik yang menunjukkan bahwa kenaikan EPS ditopang oleh bisnis intinya (core business). Laba yang dihasilkan tiap tahun juga selalu diatas 20% terhadap modal. Ini dapat dilihat dari ROE (return on equity). Sedangkan rasio hutang terhadap modal agak besar. Rata-rata diatas 1 (satu) kali modal. Ini bisa dimaklumi karena HEXA bergerak disektor perdagangan sehingga hutang tersebut merupakan hutang usaha dan masih kategori hutang lancar.
Secara keseluruhan, kinerja saham HEXA sangat menggiurkan.
Kinerja fundamental saham HEXA (Hexindo Adiprakasa)
Secara teknikal, harga saham HEXA secara mingguan membentuk pola cangkir bertangkai (cup with handle). Ini adalah pola yang umum terjadi untuk saham-saham tangguh. Pola terbentuk akibat terhalangnya kenaikan saham HEXA oleh guncangan bursa regional.
Sudah terlihat ada tanda-tanda saham HEXA berancang-ancang naik. Cermati pergerakan saham HEXA. Bila harga sudah diperdagangkan dikisaran harga acuan beli (pivot point atau buy point) yaitu di 8.800, dan bila saat itu perdangan cukup ramai (volume meingkat), siap-siap untuk membeli.
Anda bisa menjualnya bila kenaikan harga sudah 20% dari harga acuan beli. Anda juga bisa menjual sebagian saja dan menahan sebagiannya sambil mencermati kenaikkannya. Kadang-kadang (sering terjadi) saham tangguh bisa naik berlipat-lipat hanya dalam waktu singkat.
Bursa saham . Sudahkan kejatuhannya mencapai “bottom”?
Tentu masih teringat bagaimana kejatuhan bursa saham yang dimulai bulan Oktober 2007. Pelaku bursa saham berdarah-darah (termasuk saya hehe). Mungkinkah kita bisa belajar dari kejadian tahun 2007 itu? Coba kita ingat kembali kejadian tahun 2007. Terpaan di bursa saham sudah dimulai pada Juni 2007.
Kasus macetnya kredit di sektor perumahan di Amerika Serikat yang lebih dikenal dengan Suprime Morgage mulai mencuat. Ini membuat indeks Dow Jones dari 14.121 terjungkal sekitar 11.8% hanya dalam 2 minggu. Namun pelaku pasar keliatannya masih belum waspada dan menganggap isu Suprime Morgage hanya temporer. Ini membuat indeks Dow Jones kembali naik selama 2 minggu kemudian dan bahkan mencapai titik tertinggi baru (new high) di 14.279. Namun efek domino dari Suprime Morgage mulai terasa. Yang pertama terkena imbas adalah sektor keuangan yang secara langsung menyalurkan Suprime Morgage. Ada yang bangkrut, ada yang rugi besar. Kita bisa menyebut Bank of Amerca, Citibank, Merryl Linch, JP Morgan, Wells Fargo dan banyak lagi. Efek domino juga berantai kepada persoalan hutang dibeberapa negara. Sebut saja Spanyol, dan Yunani. Ini menyebabkan bursa saham benar-benar terhempas tajam selama kurun waktu hampir 1.5 tahun. Dow Jones terdiskon lebih dari 50%. Pemerintahan Amerika Serikat dibawah Presiden George Bush sampai harus menyiapkan dana talangan (bailout) hampir 2000 milyar dollar (2 trilyun dollar) demi menenangkan situasi.
Awal Mei 2011, Dow Jones kembali tersedak. Berbagai isu fundamental di Amerika Serikat kembali membuat indeks Dow Jones terpuruk. Selama lebih kurang 6 bulan, Dow Jones sudah terpental lebih dari 18%.
Kondisi penyebab kali ini mungkin berbeda. Situasi ekonomi berbagai negara juga mungkin sudah lain. Namun perilaku pelaku bursa saham tetap sama. Eforia dikala bursa saham naik sahut menyahut. Terbirit-birit (panik) dikala bursa saham turun drastis. Kondisi efek domino juga terjadi disebabkan oleh margin call (permintaan injeksi dana terhadap nasabah bursa saham yang menggunakan uang pinjaman dari sekuritas)
Apapun komentar orang di bursa saham tentang situasi saat ini, grafik selalu dapat memberi perspektif cukup banyak. Gambar diatas sengaja saya komparasikan untuk menunjukkan bahwa kemungkinan besar penurunan masih akan berlanjut. Sejauh mana penurunan akan terjadi, biarlah bursa saham sendiri (melalui grafiknya) yang memberi tahu. Bagi yang masih berada didalam, selamat berolahraga jantung. Bagi yang sudah diluar bursa saham (sudah menjual atau melikuidasi seluruh sahamnya), silahkan nikmati dulu tamasya anda. Di bursa saham selalu berlaku “panas setahun di hapus oleh hujan sehari”.
PT Unilever Indonesia Tbk tetap konsisten positif dengan kinerjanya di tahun 2010. Laba bersih naik 11,27% dari 3,04 trilyun menjadi 3,39 trilyun. Penjualan (pendapatan) meningkat 7,91% dari 18,2 trilyun menjadi 19,7 trilyun. Laba usaha laba operasi) juga naik 7,76% dari 4,21 trilyun menjadi 4,54 trilyun. Sedangkan laba bersih per lembar saham atau earning per share (EPS) naik 11,28% dari Rp 399 menjadi Rp 444 per lembar saham.
Perusahaan yang memproduksi barang-barang konsumsi yang melantai di bursa saham Indonesia dengan kode saham UNVR ini tetap membukukan rasio laba bersih terhadap modal atau return on equity (ROE) yang sangat tinggi yaitu 83,73%. Sedangkan rasio hutang terhadap modal atau dept to equity ration (DER) sebesar 1.15 kali.
BUMN energi PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) ditahun 2010 memperoleh laba bersih 6,24 trilyun, naik tipis 0,2% dibanding perolehan laba bersih yang diperoleh di tahun 2009 yaitu 6,23 trilyun. Emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode saham PGAS ini sesengguhnya memperoleh pendapatan yang naik 9,7 % dari 18 trilyun menjadin 19,8 trilyun. Laba usaha atau laba operasi juga naik signifikan 17,7 % dari 7,68 trilyun menjadi 9,04. Namun laba per lembar saham atau earning per share (EPS) justru mengalami penurunan sebesar 1,9% dari Rp 262 menjadi Rp 257 per lembar saham.
Rasio laba bersih terhadap modal atau return on equity (ROE) masih cukup tinggi yaitu 45%, meski agak turun dibandingkan dengan tahun 2009 yang mencapai 59%. Rasio hutang terhadap modal atau dept to equity ratio (DER) pun membaik menjadi 1,31 kali dibandingkan dengan tahun 2009 yang 1,65 kali.