Tidak obyektif menilai saham

Banyak yang menentukan pilihan berdasarkan favoritisme. Hanya karena saham BUMI pernah begitu merajai bursa dengan kenaikannya yang fantastis dalam beberapa bulan bukan berarti saat ini pemimpin pasar masih BUMI.

Tidak mampu memilah informasi yang baik

Jaman sekarang informasi sangatlah mudah didapat.  Banyak sumber memberikan informasi dan tinjauan yang berbeda.  Disitulah letak persoalan kalau berbicara tentang saham. Terlalu banyak infomasi yang justru membuat bingung dan menyesatkan.

Sahabat, kerabat, pialang dan konsultan anda bisa saja merupakan sumber dari semua nasihat yang justru menyesatkan. Hanya sedikit investor sukses yang bisa anda jadikan panutan. Pialang kenamaan, atau para konsultan investasi, tidak lebih cerdas dibandingkan para dokter, para tenaga IT, pengacara atau pedagang toko. Hanya satu dari sepuluh investor yang mampu memberikan informasi yang lebih akurat. Pemain yang sekedar lulusan perguruan tinggi tentu bukan kaliber profesional.

Membeli karena rasa suka

Membeli karena rasa suka. Diawal saya menjadi investor, saya menyaksikan beberapa investor yang kebetulan bekerja di Bank BRI. Hampir semua investor tersebut membeli saham BRI. Padahal pada waktu itu pemimpin pasar adalah sektor pertambangan. Ada rasa “suka” terhadap saham yang mereka beli karena kebetulan mereka bekerja di perusahaan yang sahamnya mereka beli. Menurut saya, pembelian semacam ini tidak obyektif. Yang anda cari adalah saham-saham yang akan memberikan keuntungan besar buat anda. Meskipun saham BRI yang mereka beli saat itu dalam beberapa bulan harganya naik, namun pemimpin pasar pada saat itu yaitu sektor tambang naik jauh berlipat-lipat meninggalkan kenaikan harga BRI.

Exit mobile version