Memilih saham lapis kedua berdasarkan deviden atau rasio P/E

Faktor deviden dan rasio P/E (price earning ratio/rasio harga saham dibandingkan dengan labanya) tidak sepenting faktor pertumbuhan EPS (earning per share/laba per lembar saham).

Dalam banyak kasus, makin besar deviden yang dibayar oleh perusahaan, makin melemah harga sahamnya. Bunga yang harus mereka bayar untuk menyediakan dana itu kembali (setelah dana berkurang yang dibayarkan untuk deviden), cendrung lebih besar. Perusahaan-perusahaan yang kinerja sahamnya (harga sahamnya di bursa) yang makin baik, biasanya tidak mengambil langkah pembayaran deviden. Sebagai gantinya, dana itu mereka investasikan kembali kedalam aktifitas riset dan pengembangan atau kedalam bentuk-bentuk lain demi memperbaiki dan meningkatkan kinerja perusahaan.

Berkaitan dengan rasio P/E, maka saham yang memiliki rasio P/E rendah ini bisa jadi disebabkan oleh labanya yang cendrung turun atau perusahaan sebelumnya berkinerja buruk, dimana harga sahamnya sudah turun jauh lebih dulu.

Keputusan membeli saham berdasarkan rumor

Keputusan membeli saham berdasarkan rumor, kisah-kisah, rekomendasi para konsultan, opini para “ahli” di TV.

Banyak orang di bursa suka mempertaruhkan uang hasil kerja keras mereka pada apa yang dikatakan orang lain, bukannya belajar demi meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya untuk bisa menentukan sikapnya sendiri secara benar. Banyak rumor dan kisah-kisah yang menyesatkan anda. Kalaupun jika sekali waktu mereka toh benar, bukan berarti ini bisa dipakai sebagai patokan. Seringkali saham-saham harganya bergerak justru berlawanan dengan apa yang dikomentari di TV atau diulas di koran.

Suka membeli saham murahan

Suka membeli saham murahan ( saham yang berharga murah dalam jumlah lot yang banyak ) daripada membeli saham yang berharga mahal dalam jumlah lot yang sedikit

Banyak yang berpikir, lebih baik membeli saham yang masih berharga Rp200, dari pada membeli saham yang berharga Rp5.000. Mereka merasa dengan cara ini, uang mereka akan menghasilkan manfaat yang lebih besar lagi. Dalam pikiran mereka, saham yang berharga Rp200 masih mungkin naik menjadi Rp5.000. Sedangkan saham yang berharga Rp5.000 sudah kecil kemungkinan naik lagi. Nah, anda mesti bersiap-siap untuk tercengang dengan kenyataan ini.

Pikiran macam ini sangat konyol. Harga saham akan naik bukan karena faktor berapa harganya saat ini, tetapi karena faktor kinerja perusahaannya, pertumbuhannya, prospek bisnisnya yang semakin besar dimasa yang akan datang. Di tahun 2006, harga saham KIJA Rp160, sedangkan harga saham INCO Rp 18.000. Ditahun 2007 akhir ,saham KIJA masih bertengger dibawah Rp300, sedangkan saham INCO melesat mendekati Rp100.000. Mutu yang terbaik tidak mungkin dijual pada harga murah.

Membeli ketika harga rata-rata turun (average down)

Banyak investor membeli saat harga turun, lalu melanjutkan pembelian lagi dengan jumlah lebih banyak ketika harga makin turun. Begitu harga makin turun lagi, makin banyak lagi membelinya. Membeli dengan harga rata-rata turun (average down). Jika anda melakukan ini, anda mengikuti cara berpikir investor pecundang. Jika saham berlanjut penurunannya sudah pasti ada sesuatu yang tidak beres. Anda seharusnya memangkas kerugian, bukannya membeli semakin banyak.

Terlalu toleran terhadap kerugian-kerugian kecil

Terlalu toleran terhadap kerugian-kerugian kecil. Tidak seorangpun yang membeli saham bisa memastikan bahwa harga sahamnya tidak akan pernah turun dibawah harga belinya, terhitung sejak saham itu dibelinya. Investor tidak mungkin terhindar dari fluktuasi harga saham yang naik maupun turun. Namun ada patokan batas penurunan yang harus anda buat yang menjadi batas toleransi anda.

Semestinya investor dapat keluar dari bursa ketika kerugiannya yang dialami belum terlalu besar apabila investor melihat gelagat yang kurang baik. Namun investor tetaplah manusia yang sering bertindak dibursa terbawa emosi. Mereka tidak mau pasrah begitu saja menerima kerugian-kerugian kecil itu, sehingga mereka pun terus menunggu dan berharap, waktu demi waktu, hingga akhirnya kerugian itu justru makin bertambah besar. Inilah kesalahn pertama dan fatal yang dilakukan. Mereka tidak menyadari bahwa sifat perilaku bursa sangatlah spekulatif dan sering beresiko tinggi.

Tanpa pandang bulu, anda harusnya menghentikan setiap kerugian kecil itu sebelum menjadi besar. Rumusan yang bisa anda patok adalah,segeralah jual rugi saham anda apabila turun mencapai 8%, atau jual rugilah saham anda separo bila harganya turun 5%, lalu lanjutkan jual rugi yang separo lagi apabila harganya makin turun hingga 10%. Dengan mengikuti rumusan ini, anda akan mampu bertahan lebih lama dan mampu menyambar peluang-peluang berikutnya.

Exit mobile version