EPS GTBO (PT Garda Tujuh Buana Tbk) melesat 128 kali lipat di 2012 kuartal1

PT Garda Tujuh Buana Tbk (GTBO) membukukan kenaikan keuntungan yang fantastis periode kuartal 1 tahun 2012 dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2011.

  • EPS naik 12.811 % (128 kali lipat) dari Rp 0,18 menjadi Rp 23,24
  • Penjualan naik ~ % dari Rp 0 menjadi Rp 124.100.096.420
  • Laba usaha naik ~% dari rugi Rp 2.101.830.288 menjadi untung Rp 57.313.885.533
  • Laba bersih naik  13.117 % (131 kali lipat) dari Rp 439.618.183 menjadi Rp 58.103.183.451

Namun jika dibandingkan dengan ekuitas (modal) yang dimiliki saat ini sebesar Rp  385.666.474.579, laba bersih tersebut belumlah terlalu fantastis.

ROE = Laba Bersih / Modal = 57.313.885.533 / 385.666.474.579 = 15.1%.

Bandingkan dengan Unilever yang memiliki ROE hingga 80%.

Laporan keuangan selengkapnya bisa di download di : Laporan keuangan 2012 kuartal 1

Analisa saham BORN (Borneo Lumbung Energy): crossing MA

Analisa saham BORN (PT Borneo Lumbung Energy & Metal)

Analisa Fundamental

2011 2010 2009 2008
Annual Annual Annual Annual
Pertumbuhan Earning Per Share (EPS) +69% +~ n/a n/a
Pertumbuhan Laba Operasi (Usaha) +169% +1971% n/a n/a
Pertumbuhan Pendapatan (Penjualan) +121% +1269% n/a n/a
Tingkat Return On Equity (ROE) 22% 6% n/a n/a
Rasio hutang (dept to equity ratio – DER)          0.81          0.30 n/a n/a

EPS Borneo di tahun 2010 (dibandingkan dengan 2009) meningkat sebesar +~ (tak terhingga). Ini terjadi karena EPS ditahun 2009 adalah negatif (perusahaan merugi), sedangkan ditahun 2010 sudah membukukan keuntungan. Ditahun 2011 EPS kembali meningkat  (dibanding 2010) sebesar 69%.

Dari sisi operasi, di tahun 2010 (dibandingkan dengan tahun 2009) laba operasi meningkat tajam. Ini berarti pada tahun 2009, hasil dari operasi sebenarnya untung, namun secara keseluruhan disebabkan beban biaya lain-lain, perusahaan merugi di 2009. Tahun 2011 (dibandingkan 2010) laba operasi kembali meningkat 169%. Dibandingkan dengan EPS yang meningkat 69% maka EPS secara berasal dari operasi perusahaan.

Dari sisi pendapatan (penjualan) hampir sejalan dengan pertumbuhan laba operasi.

Tingkat keuntungan perusahaan (laba bersih) dibandingkan dengan modal (return on equity) , tahun 2010 masih 6% (sementara EPS, laba operasi dan pendapatan meningkat tajam). Ini masuk akal karena BORN melakukan IPO di tahun 2010 sehingga modal perusahaan  (modal sebelum IPO ditambah dengan modal hasil IPO) bertambah besar. Ditahun 2011, ROE berhasil naik ke 22% (kinerja perusahaan yang baik umumnya memiliki ROE diatas 20%)

Dari sisi rasio  hutang terhadap modal, tahun 2010 cukup kecil yang hanya 0,3 x modal.  Ditahun 2011 rasio membesar menjadi 0,8 x modal.

Berikut snapshoot dari kinerja 2011 & 2010 PT Borneo Lumbung Energy & Metal :

2011 2010
(Dalam Rupiah)
Jumlah Asset 15,373,809,000,000 8,523,960,000,000
Hutang 6,889,825,000,000 1,946,199,000,000
Ekuitas 8,483,984,000,000 6,577,761,000,000
Penjualan 6,084,311,000,000 2,751,793,000,000
Laba kotor 3,383,151,000,000 1,330,570,000,000
Laba operasi 2,532,627,000,000 939,677,000,000
Laba bersih 1,827,621,000,000 348,859,000,000
EPS 103 61

Secara keseluruhan, kinerja BORN sangat baik.

Analisa teknikal

  Saat tren naik, grafik harga saham akan memiliki urutan harga dan MA (Moving Average) sebagai berikut:

  • Harga akan berada diatas MA 20 (Moving Average 20 days),
  • MA 20 akan berada diatas MA 50,
  • MA 50 akan berada diatas MA 100, dan
  • MA 100 akan berada diatas MA 200

Berdasarkan harga penutupan terakhir (per tanggal 5 April 2012) saham BORN ditutup di harga 870. Harga penutupan ini sudah berada diatas MA20, MA50 dan MA100.

MA20 sudah hampir memotong keatas MA50. Dan bila ini terjadi (mungkin terjadi pada perdagangan hari berikutnya) berarti urutan (harga dan MA) sesuai tren sudah sejalan. Tinggal menunggu untuk melewati MA 200.

Resisten yang dekat ada di harga 900. Dan jika resisten ini bisa ditembus (breakout), harga bisa bergerak hingga mendekati MA200 (sekitar harga 1000). Namun bisa juga MA200 langsung dilewati sehingga tren kenaikkan akan menuju ke sekitar 1730. Tergantung kondisi market secara umum (regional) dan yang jelas tergantung DEMAND and SUPPLY.

Perlu diingat bahwa berdasarkan RUPS tanggal 30 Desember 2011, disetujui pembelian saham kembali (buy back) sebanyak maksimal 4% atau 707.720.000 lembar atau setara  1.415.440 lot.

Apakah anda sudah beli saham BORN?. Saya sudah beli kemaren :
D

Laba bersih PT Bumi Resources Tbk (BUMI) anjlok 19%

Kinerja PT Bumi Resources Tbk sepanjang tahun 2011 masih terseok-terseok. Perusahaan tambang yang melantai di bursa dengan kode saham BUMI ini berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan, laba bersih anjlok dari USD 266 juta di tahun 2010 menjadi USD 215 juta di tahun 2011 atau anjlok sekitar 19%.

Pendapatan mengalami kenaikan cukup tajam dari USD 2.9 milyar di tahun 2010 menjadi USD 4 milyar di tahun 2011. Ini berarti disisi pendapatan (penjualan) mengalami kenaikan sekitar 36,7%.

Laba usaha juga naik cukup tajam dari USD 652 juta di tahun 2010 menjadi USD 1,2 milyar di tahun 2011. Ini berarti ada lonjakan laba usaha sekitar 84%.

Sementara laba perlembar saham (earning per share) mengalami sedikit kenaikan yaitu dari USD 9,83 di tahun 2010 menjadi USD 10,37 ditahun 2011 atau meningkat sekitar 5,5% saja.

Hutang Bumi Resources selama 2011 juga meningkat. Pada tahun 2010, rasio hutang terhadap modal (dept to equity ratio) hanya 3,34 kali.  Sedangkan di tahun 2011, dept to equity ration (DER) naik menjadi 4,27 kali.

Inkonsistensi antara pendapatan, laba usaha dan laba bersih terjadi karena adanya pos pengeluaran lain-lain di tahun 2011 yang sangat besar yaitu sebesar USD 625,7 juta. Ini jauh diatas pengeluaran di tahun 2010 yang hanya USD 121,1 juta.

Laba PT Bayan Resources Tbk (BYAN) meningkat 270%

PT Bayan Resources Tbk (BYAN) membukukan pertumbuhan pendapatan komprehensif yang signifikan sekitar 270,07% menjadi Rp2,08 triliun sepanjang 2011 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya hanya Rp564,199 miliar.

“Kinerja yang cemerlang selama 2011 didukung oleh pendapatan perseroan yang turut meningkat tajam 51,34% menjadi Rp13,23 triliun dari Rp8,74 triliun pada 2010,” kata Direktur Utama BYAN Chin Wai Fong di Jakarta, Jumat (30/3).

Ia menambahkan seiring dengan meningkatnya pendapatan, biaya turut naik 40,04% menjadi Rp9,38 triliun semala 2011 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya Rp6,70 triliun.

Perusahaan tambang batubara ini terpaksa menderita rugi kurs sebesar Rp103,90 miliar selama 2011 dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya berhasil mengantongi keuntungan dari kurs Rp55,17 miliar.

Beban penjualan perseroan turut meningkat 42,54% menjadi Rp774,38 miliar selama 2011 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp543,26 miliar.

Hingga 2011, total aset perseroan tercatat sebesar Rp14,38 triliun atau mengalami pertumbuhan 71,83% dibandingkan dengan periode tahun sebelumnya Rp8,37 triliun.

Direktur BYAN, Jenny Quantero menargetkan produksi dan penjualan batubara perseroan sekitar 18-20 juta ton pada 2012. Harga rata-rata penjualan sekitar US$95 juta.

Selain itu, perseroan juga tengah mencari dana berkisar US$700 juta-US$900 juta. Pinjaman tersebut untuk ekspansi, belanja modal, dan refinancing.

Sumber : IMQ

Laba bersih PT Adaro Energy Tbk (ADRO) melesat 124,7%

PT Adaro Energy Tbk membukukan laba bersih sepanjang 2011 sekitar US$522 juta. Jumlah ini meningkat signifikan 124,7% dibandingkan dengan periode yang sama 2010 yang hanya US$247 juta.

Menurut Direktur Utama Adaro Boy Giribaldi Thohir, pencapaian ini ditopang oleh pertumbuhan volume produksi yang tinggi, harga jual rata-rata yang kuat dan pengendalian biaya yang terus dilakukan.

“Dengan kinerja tahun 2011 yang kokoh, kami selangkah lebih maju untuk mencapai visi Adaro Menjadi Kelompok Perusahaan Tambang dan Energi Indonesia yang terkemuka. Kami berhasil mencapai target yang ditetapkan dan mampu melaksanakan tujuan strategis dengan mengakuisisi beberapa cadangan batubara di Sumatera Selatan serta berekspansi ke hilir melalui proyek pembangkit listrik di Jawa Tengah,” kata Giribaldi di Jakarta, Rabu (28/3).

Ia menambahkan pendapatan usaha turut meningkat 47% menjadi US$3,99 miliar, dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$2,718 miliar. Pertumbuhan ini disebabkan oleh naiknya produksi dua digit dan harga yang meningkat tajam.

Sementara marjin laba kotor meningkat 35,8% dari 30,5% pada tahun sebelumnya.

“Kami semakin yakin bahwa bisnis model terbukti tepat untuk mewujudkan nilai yang berkesinambungan dari batubara Indonesia untuk menjadikan Adaro yang lebih besar dan lebih baik serta membantu pembangunan nasional,” tuturnya.

Produksi batubara Adaro sepanjang 2011 meningkat 13% menjadi 47,67 juta ton dan volume penjualan meningkat 16% menjadi 50,78 juta ton. Kombinasi faktor-faktor, seperti cuaca, tambahan alat berat yang baru dan lebih besar, serta kinerja kontraktor yang baik memungkinkan Adaro untuk mencapai batas atas target produksi yang telah ditetapkan pada kisaran 46-48 juta ton.

Harga jual rata-rata batubara Adaro Indonesia meningkat 27,6% karena kenaikan harga jual batubara termal dan tambahan kontrak dengan harga yang ditentukan oleh pasar.

Hingga 2011, total biaya kas grup meningkat 14,2% menjadi US$41,21 per ton dikarenakan rasio nisbah kupas yang direncanakan lebih tinggi, jarak pembuangan lapisan penutup yang lebih jauh, dan biaya bahan bakar yang meningkat.

“Kami mencatat sebagai perusahaan yang memiliki marjin EBITDA terbaik untuk batubara termal di Indonesia sekitar 36,9%,” imbuhnya.

Di samping itu, Adaro mencatat setoran pajak pendapatan sebesar US$450,5 juta dan pembayaran royalti sekitar US$405,4 juta. Adaro mengalokasikan dana untuk pengembangan masyarakat di luar program lingkungan hidup US$10 juta meningkat 70% dibandingkan tahun sebelumnya US$5,8 juta.

Sumber : IMQ

Exit mobile version