Berita ITMG (PT Indo Tambangraya Megah Tbk): kinerja 2011

PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) membukukan laba bersih sebesar US$ 546 juta pada 2011 atau melonjak 167% dibandingkan 2010 senilai US$ 204 juta. Kenaikan itu dipicu peningkatan pendapatan sebesar 43% menjadi US$ 2,3 miliar dari US$ 1,6 miliar. Adapun laba bersih per saham mencapai US$ 0,48 atau Rp 4,320 dari sebelumnya US$ 0,18. Lonjakan laba bersih perseroan didorong oleh peningkatan volume penjualan batubara dan harga jual rata-rata.

Tahun ini, perseroan menargetkan produksi naik 8% menjadi 27 juta ton. Tandung Mayang dan Bharinto akan menjadi motor pertumbuhan produksi. Perseroan juga berniat untuk mempertahankan rasio dividen 75% untuk tahun buku 2011. Rasio ini digunakan perseroan dalam membagikan dividen interim 2011. Perseroan akan membagikan dividen interim untuk tahun buku 2011 sebesar Rp 1,3 triliun atau setara dengan Rp 1,168 per saham. Perseroan juga menyiapkan belanja modal sebesar US$ 223 juta pada 2012. Dana capex berasal dari kas internal. Dana tersebut akan digunakan untuk keperluan anak usaha dan konsesi pertambangan.

Berita INDY (PT Indika Energy Tbk) : akuisisi tambang

Berita INDY (PT Indika Energy Tbk) : Akuisisi tambang

PT Indika Energy Tbk (INDY) mengakusisi 85% saham perusahaan batu bara PT Multi Tambangjaya Utama senilai US$ 132 juta. Akuisisi itu dilakukan melalui anak perusahaan perseroan yaitu PT Indika Indonesia Resources dan Indika Capital Pte Ltd. Kesepakatan jual beli itu, yang diteken pada 15 Februari 2012, juga mencakup pengambilalihan hak pemasaran batu bara di Multi Tambangjaya.

Multi Tambangjaya adalah perusahaan dengan kegiatan usahan pertambangan batu bara yang berlokasi di Kalimantan Tengah. Pelaksanaan akuisisi saham dan hak pemasaran batu bara Multi Tambangjaya akan berlaku efektif setelah dipenuhinya syarat pendahuluan seperti persetujuan otoritas yang berwenang,
rampungnya penelahaan, dan uji tuntas terhadap Multi Tambangjaya.

Berita INDY (PT Indika Energy Tbk) : penjualan kembali saham Petrosea

Perseroan belum lama ini menjual kembali 28,99 juta saham Petrosea atau setara 28,75% dari total saham yang ditempatkan oleh Petrosea. Jumlah tersebut sudah termasuk fasilitas green shoe sebesar 3,75%. Dari aksi korporasi tersebut, perseroan mengantongi dana segar US$ 116,3 juta atau setara Rp 1,04 triliun. Dana hasil penjualan saham Petrosea akan digunakan untuk mengembangkan usaha perseroan sesuai dengan model bisnis persetroan, yakni resources, service dan infrastructure.

Berita TINS (PT Timah Tbk)

PT Timah Tbk (TINS) akan investasi pengembangan industri hilir tahun ini senilai Rp500 miliar. Pendanaan bersumber dari kas internal dan eksternal. Pengembangan pabrik tin solder untuk elektronik dan tin chemical untuk plastik sesuai dengan rencana perseroan untuk meningkatkan hilirisasi produk bijih dan logam timah menjadi produk turunan.

Produk turunan timah dinilai mampu memberikan nilai tambah lebih besar. Biaya pengembangan hilirisasi timah akan dialokasikanya dalam belanja modal. Pendanaan belanja modal bersumber dari kas internal dan eksternal. Perseroan akan menyiapkan belanja modal tahun ini sebesar Rp 2 triliun.

Berita PTBA (PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk)

Berita PTBA (PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk)

Pendapatan

PT Bukit Asam tbk (PTBA) berpotensi membukukan pendapatan tahun ini sebesar Rp 16,74 triliun dengan laba bersih Rp 3,52 triliun. Proyeksi ini menggunakan asumsi volume penjualan mencapai 18,6 juta ton dan harga jual tumbuh moderat di kisatran 5%-10%. Untuk pendapatan, proyeksi menggunakan asumsi porsi penjualan ekspor sekitar 30% dengan harga jual rarta-rata US$ 115,06 per ton serta kurs Rp 9.000 per dollar Amerika Serikat. Sedangkan penjualan domestik 70% dengan harga jual sekitar Rp 842 ribu per ton. Adapun perkraan laba bersih sebesar 3,52 triliun mengacu pada rata-rata margin bersih perseroan dalam lima tahun terakhir sekitar 21,08%.

Deviden

PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) mengusulkan rasio dividen untuk tahun buku 2011 sekitar 55-60%. Perseroan memperkirakan laba bersih 2011 mencapai Rp3 triliun. Dengan demikian, dividen mencapai Rp 1,6—1,8 triliun. Pada 2009-2010, perseroan juga menetapkan rasio dividen 60%. Perseroan berharap rasio dividen 2011 bisa sama seperti 2009 dan 2010. Besaran rasio dividen akan diputuskan dalam RUPSLB yang rencananya akan digelar pada Juni 2012. Jika disetujui sisa laba bersih akan digunakan untuk membiayai ekspansi. Tahun ini, perseroan akan mengalokasikan belanja modal sebesar Rp 1,7 triliun, meningkat 30,77% dibandingkan tahun lalu Rp 1,3 triliun. Sumber dananya berasal dari kas internal. Perseroan juga berencana untuk membeli kembali saham sebanyak 115.206.592 lembar. Dana yang disiapkan perseroan mencapai Rp 2,04 triliun. Sumber dananya juga dari kas internal. Jangka waktu buyback mencapai 18 bulan dilakukn secara bertahap. Saham buyback akan menjadi saham simpanan (treasury) dan bisa dijual kembali.

Berita PT Aneka Tambang ( ANTM )

Harga jual emas ANTM

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) memproyeksikan harga jual rata-rata emas tahun ini relatif sama dengan tahun lalu, yakni di harga US$ 1250 per ounces. Proyeksi tersebut mempertimbangkan kemungkinan masih tertekannya harga emas dunia sepanjang paruh pertama 2012. Perseroan tidak akan mematok harga emas terlalu tinggi karena melihat kondisi pasar yang masih fluktuatif. Perseroan tahun ini menargetkan produksi emas 3,1 ton, naik tipis dari tahun lalu 3 ton. Sedangkan, penjualan emas diprediksi naik 32% menjadi 7 ton dari target tahun lalu sekitar 5,3 ton. Volume penjualan 7 ton tersebut termasuk emas yang berasal dari pihak ketiga.

Kinerja ANTM 2012

PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) memprediksikan kinerja tahun 2012 akan menyusut. Ini disebabkan mandeknya pengoperasian pabrik feronikel perseroan di Pomala, Sulawesi Tenggara. Tambang feronikel yang akan beroperasi adalah produksi unit Feni II. Perseroan melakukan perbaikan mulai sejak akhir tahun lalu yakni meliputi atap dan dinding areal pertambangan. Rencananya, perbaikan pabrik feronikel ini akan selesai pada kuartal pertama tahun 2012. Selama ini, Feni II bisa menghasilkan feronikel sekitar 500 ton per bulan. Namun, perseroan tetap optimis tahun ini bisa menjual hingga 6,6 ton emas. Adapun estimasi harga masih sama seperti harga rata-rata tahun 2011 sebesar US$ 1.250 per ton.

Exit mobile version