Emiten dan perusahaan publik: 4 persamaan & perbedaan

Istilah Emiten dan Perusahaan Publik didefinisikan didalam Undang Undang nomor 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal.  Emiten adalah pihak yang melakukan penawararan umum.  Sedangkan Perusahaan Publik adalah Perseroan yang sahamnya telah dimiliki sekurang-kurangnya oleh 300 (tiga ratus) pemegang saham dan memiliki modal disetor sekurang-kurangnya Rp3.000.000.000,00 (tiga miliar rupiah) atau suatu jumlah pemegang saham dan modal disetor yang ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah.

Emiten dan perusahaan publik: persamaan & perbedaan

Perbedaan emiten dengan perusahaan publik tergantung dari jenis efek yang dijual oleh perusahaan. Efek yang dijual berupa saham atau obligasi.

Definisi Emiten

Secara ringkas dapat dijelaskan Emiten adalah :

  • pihak yang melakukan kegiatan penawaran efek kepada masyarakat untuk menjual efek berdasarkan tata cara yang diatur dalam UU Pasar Modal dan peraturan pelaksanaannya.
  • dapat berupa orang perseorangan, perusahaan, usaha bersama, asosiasi, atau kelompok yang terorganisasi

Definisi Perusahaan Publik

Secara ringkas dapat dijelaskan  Perusahaan Publik adalah:

  • Setiap perseroan yang sahamnya telah dimiliki sekurang-kurangnya oleh 300 (tiga ratus) pemegang saham dan modal disetornya sekurang-kurangnya 3 miliar rupiah adalah Perusahaan Publik; atau
  • Setiap perseroan yang memenuhi suatu jumlah pemegang saham dan modal disetor yang ditetapkan dengan peraturan pemerintah (diluar dari kriteria diatas).

Jenis efek yang bisa dijual atau diterbitkan Emiten adalah  :

  1. Saham
  2. Obligasi
  3. Sukuk
  4. Reksadana
  5. ETF
  6. DIRE (Dana Investasi Real Estat)/DINFRA (Dana Investasi Infrastruktur)
  7. Derivatif

Perusahaan yang menjual saham ke publik belum tentu juga menjual obligasi ke publik. Begitu juga sebaliknya, perusahaan yang menjual (menerbitkan) obligasi belum tentu menjual saham ke publik.

Tabel persamaan Emiten dan Perusahaan publik

Ada juga perusahaan yang menjual saham ke publik dan juga sekaligus menjual obligasi ke publik. Untuk lebih jelas perbedaannya bisa dilihat dari tabel berikut.

Tabel Perbedaan Emiten dan Perusahaan Publik

    Emiten  Bukan Emiten    
Perusahaan
Terbuka
(Publik)
 Perusahaan
Tertutup
 Perusahaan
Tertutup
1 Menjual saham saja ke publik Ya  Tidak  –
2 Menjual Obligasi
Sukuk
Reksadana
ETF
DIRE/DINFRA
Derifatif
saja ke publik
Tidak  Ya
3 MenjualSaham
Obligasi
Sukuk
Reksadana
ETF
DIRE/DINFRA
Derivatif
 ke publik
Ya  Tidak
4 Tidak menjual Saham
Obligasi
Sukuk
Reksadana
ETF
DIRE/DINFRA
Derivatif
ke publik
 –  – Ya

Jika perusahaan menjual efek saham ke publik maka perusahaan tersebut disebut perusahaan publik atau perusahaan terbuka. Jika perusahaan hanya menjual obligasi ke publik maka disebut dengan perusahaan tertutup. Jika perusahaan tidak menjual saham ataupun obligasi ke publik disebut dengan perusahaan tertutup.

Transaksi saham atau obligasi dari sebuah emiten dilakukan melalui mekanisme perdagangan di Bursa Efek Indonesia.

Tujuan Menjadi Emiten dan Perusahaan Publik

Tujuan utama dari pihak menjadi emiten adalah untuk mendapatkan dana dari publik dengan cara memberikan penawaran efek kepada publik melalui Bursa Efek Indonesia. Selain itu, keuntungan menjadi emiten adalah memungkinkan pihak mengelola dana publik untuk diinvestasikan. Bentuk pertanggung jawaban dari pihak adalah dengan menerbitkan laporan keuangan emiten per kuartal.

Jika sebuah pihak yang hendak menjadi emiten adalah perusahaan, maka perusahaan dapat melakukan Initial Public Offering (IPO) atau penawaran umum perdana saham. Dengan melepas sahamnya ke publik, perusahaan tersebut menjadi perusahaan publik. Investor dapat membeli sahamnya di pasar modal melalui mekanisme perdagngan Bursa Efek Indonesia.

Data lengkap tentang emiten dan klasifikasinya dapat dibaca dihalaman IDX IC (IDX Industrial Classification).

Pengertian stock reverse – penjelasan yang mudah dipahami

Stock reverse diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia menjadi “Pemampatan Saham”. Secara umum pengertian stock reverse : Stock reverse adalah pemampatan jumlah lembar saham menjadi jumlah lembar yang lebih sedikit dengan menggunakan nilai nominal yang lebih tinggi per lembar sahamnya secara proporsional.

Pengertian stock reverse dengan sebuah Ilustrasi

Stock reverse merupakan kebalikan dari Stock Split

Misalkan sebuah perusahaan melakukan stock reverse 5: 1  ( 5 reverse jadi 1 atau stock reverse dengan rasio 5 banding 1 ). Aksi stock reverse tersebut mengakibatkan :

  1. Jumlah saham beredar menciut 5 kali lipat.
  2. Harga saham  ( dan nilai nominal ) naik 5 kali.
  3. Total nilai saham ( dan nilai nominal ) adalah tetap.

Gambar berikut memberikan visualisasi tentang pengertian stock reverse.

Bayangkan anda menukar 5 ( lima ) lembar uang pecahan Rp 1000 dengan 1 ( satu )lembar pecahan Rp 5000′

Pengertian stock reverse adalah seperti kita menukar uang pecahan kecil ke pecagan besar. Lembarnya berkurang namun nilainya tetap.

Penjelasan gambar diatas adalah sebagai berikut :

  • Sebelum stock reverse kita memiliki 5 lembar saham yang berharga Rp 1000 per lembar saham.
  • Setelah stock reverse kita memiliki 1 lembar saham yang berharga Rp 5000 per lembar saham.
  • Nilai portofolio saham yang kita miliki baik sebelum maupun setelah stock reverse adalah tetap.
    5 x 1000 = 5000 atau
    1 x 5000 = 5000.

Kenapa perusahaan melakukan stock reverse?

Ada sejumlah alasan mengapa perusahaan memutuskan untuk mengurangi jumlah saham beredar di pasar dengan melakukan stock reverse.

1) Menghindari harga dibawah minimum yang disyaratkan bursa

Harga saham mungkin telah jatuh ke level rendah. Situasi ini membuatnya rentan terhadap tekanan pasar lebih lanjut dan perkembangan tidak diinginkan lainnya seperti kegagalan untuk memenuhi persyaratan pencatatan bursa. Bursa saham umumnya menentukan harga penawaran minimum untuk suatu saham yang akan dicatatkan.  Jika saham jatuh di bawah harga penawaran ini dan tetap lebih rendah dari level ambang itu selama periode tertentu, itu berisiko dihapuskan dari bursa.

2) Supaya saham tetap dilirik investor besar

Perusahaan juga mempertahankan harga saham yang lebih tinggi melalui reverse stock. Banyak investor institusi dan reksa dana memiliki kebijakan untuk tidak mengambil posisi dalam saham yang harganya di bawah nilai minimum. Bahkan jika sebuah perusahaan tetap bebas dari risiko delisting oleh bursa, kegagalannya untuk memenuhi syarat untuk dibeli oleh investor besar seperti itu membuat likuiditas perdagangan dan reputasinya akan hancur.

Ketiga, di yurisdiksi yang berbeda di seluruh dunia, peraturan perusahaan bergantung pada jumlah pemegang saham, di antara faktor-faktor lainnya. Dengan mengurangi jumlah saham, perusahaan kadang-kadang bertujuan untuk mengurangi jumlah pemegang saham yang memungkinkan mereka untuk berada di bawah pengawasan regulator yang mereka sukai atau seperangkat hukum pilihan.

3) Perusahaan ingin go private

Perusahaan yang ingin keluar dari bursa melalui go private juga dapat mencoba untuk mengurangi jumlah pemegang saham melalui langkah-langkah tersebut.

4) Perusahaan hendak melakukan spin off

Perusahaan yang berencana melakukan spin-off mengambil langkah stock reverse. Perusahaan-perusahaan yang  independen yang dibuat melalui penjualan atau distribusi saham baru dari bisnis yang ada atau divisi dari perusahaan induk, juga dapat menggunakan stock reverse untuk mendapatkan harga yang menarik. Misalnya, jika saham perusahaan yang merencanakan spin-off diperdagangkan pada level yang lebih rendah, mungkin sulit baginya untuk memberi harga saham perusahaan spin-offnya pada harga yang lebih tinggi.

Pertama-tama mereka dapat membalikkan pembagian saham mereka untuk meningkatkan harga per saham, dan kemudian menciptakan perusahaan baru yang memiliki peluang lebih baik untuk mendapatkan harga saham yang lebih tinggi.

Lihat juga pengertian stock split.

Agio saham (pengertian serta ilustrasinya)

Apa itu Agio saham?

Agio Saham adalah selisih lebih setoran pemegang saham diatas nilai nominalnya dalam hal saham dikeluarkan dengan nilai nominal. Itulah definisi yang tertuang didalam peraturan BAPEPAM-LK nomor Kep-35/PM/2003 tanggal 30 September 2003.

Apakah anda mengerti dengan maksud kalimat diatas ???. Jika anda seorang investor, cobalah bertanya atau meminta broker anda menjelaskan tentang Agio saham. Mereka pasti mengerti ( kalau belum mengerti berarti belum lulus WPPE 😀 ).  Akan tetapi, broker anda belum tentu bisa menjelaskan kepada anda sehingga anda mengerti. Ini bisa disebabkan oleh karena anda ( investor ) yang terlalu awam, atau bisa juga broker anda menggunakan kosa kata yang sulit. Saya akan coba menjelaskan menggunakan bagan dengan ilustrasi dibawah ini.

Ilustrasi Agio Saham

Berikut ilustrasi agio sejak awal perusahaan dibentuk, setelah operasional hingga melakukan ekspansi.

1. Awal Pembentukan Perusahaan berjenis Perseroan Terbatas (PT)

Misalkan 5 ( lima ) orang Ani, Betty, Cici, Dini dan Evi ( maaf saya pakai nama cewek semua 😀 ) berencana membentuk perusahaan dengan modal dasar 100 milyar rupiah. Kelima orang tadi menyetorkan modal masing-masing 5 milyar rupiah, sehingga modal yang terkumpul seluruhnya adalah 25 milyar rupiah. Maka permodalan dan kepemilikan perusahaan tersebut dapat digambarkan oleh bagan berikut :

 

Kelima orang tadi juga menyepakati bahwa saham dari perusahaan yang akan dibentuk tadi diberi nominal 1.000 rupiah per lembar sahamnya ( bisa juga 2.000, 5.000, 10.000 dan seterusnya tergantung kesepakatan ),  sehingga masing-masing dari kelima orang tadi memiliki 5 juta lembar saham ( ekuivalen dengan 5 milyar rupiah dibagi 1.000 ). Lantas dibuatkanlah akte notaris untuk perusahaan ini.

Saat diawal perusahaan beroperasi (setelah memiliki akte notaris) akan kita dapatkan tabel tentang struktur permodalan, prosentase kepemilikan dan saham beredar sebagai berikut:

Dari modal yang sudah disetor :

  Pemegang Saham
  Ani Betty Cici Dini Evi
Modal disetor ( juta rupiah ) 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000
Nominal per lembar saham ( rupiah )  1.000  1.000  1.000  1.000  1.000
Jumlah lembar saham yang dimiliki oleh masing-masing pemegang saham ( juta lembar ) 5 5 5 5 5
Prosentase kepemilikan 20% 20% 20% 20% 20%
Total modal disetor ( rupiah ) 25.000.000.000
Total saham beredar ( lembar ) 25.000.000

 

Dari modal yang masih dicadangkan ( belum dikeluarkan ) :

  Dalam portopel
( belum dikeluarkan atau belum direalisasikan )
Modal belum disetor ( rupiah ) 75.000.000.000
Nominal per lembar saham ( rupiah ) 1.000
Saham yang belum dikeluarkan ( lembar ) 75.000.000

Didalam neraca perusahaan pada bagian Ekuitas akan muncul kira-kira sebagai berikut :

EKUITAS      
  a. Modal :  Rp 25.000.000.000
  b. Laba ditahan : 0
  c. Agio saham :                              0
   Total Ekuitas : Rp 25.000.000.000

2. Operasional perusahaan selama 3 tahun

Setelah perusahaan beroperasi misalnya selama 3 (tiga) tahun, ternyata perusahaan berkembang dan membukukan keuntungan bersih sebesar 35 milyar rupiah. Dari seluruh keuntungan ini belum ada yang dibagikan ke pemegang saham, sehingga di dalam neraca perusahaan pada bagian Ekuitas akan nampak seperti ini :

EKUITAS      
  a. Modal :  Rp 25.000.000.000
  b. Laba ditahan : Rp 35.000.000.000
  c. Agio saham :                              0
   Total Ekuitas : Rp 60.000.000.000

Nampak bahwa ekuitas perusahaan telah meningkat menjadi 60 milyar rupiah.

3. Ekspansi perusahaan

Perkembangan bisnis perusahaan makin pesat dan hendak melakukan ekspansi usaha. Guna melakukan ekspansi ini, perusahaan membutuhkan dana segar sebesar 300 milyar.  Para pemegang saham lama sepakat untuk melepas sisa saham yang di portopel (laci) yang berjumlah 75 juta lembar. Berdasarkan kalkulasi tingkat keuntungan perusahaan dan juga perkiraan perkembangan perusahaan kedepan, pemegang saham lama juga menyepakati bahwa sisa saham yang ada di portopel akan dijual per lembar sahamnya seharga Rp 5.000.

Kita asumsikan bahwa pelepasan sisa saham ini melalui mekanisme IPO berhasil terserap pasar (melalui private placement pada prinsipnya sama juga). Perusahaan akan mendapatkan dana dari hasil penjualan sisa saham yang 75 juta lembar itu dengan nilai total 375 milyar rupiah (5 ribu rupiah dikalikan dengan 75 juta lembar saham)

Kembali keawal, bahwa nilai nominal saham (per lembar) yang sebelumnya Rp 1000 terjual Rp 5000 atau ada selisih sebesar Rp 4000. Selisih ini nanti akan menjadi agio saham.

Perusahaan mendapatkan tambahan ekuitas sebagai berikut :

*) Modal tambahan (hasil IPO) = 75 juta lembar X Rp 1000 = 75 milyar
*) Total modal = Modal sebelumnya + modal tambahan = 25  + 75 = 100 milyar
*) Agio saham  (hasil IPO) = 75 juta lembar X  Rp 4000 = 300 milyar

dan di neraca pada bagian ekuitas akan menjadi :

EKUITAS      
  a. Modal :  Rp 100.000.000.000
  b. Laba ditahan : Rp 35.000.000.000
  c. Agio saham : Rp 300.000.000.000
   Total Ekuitas : Rp 435.000.000.000

Komposisi pemegang saham berubah menjadi:

  Pemegang Saham
  Ani Betty Cici Dini Evi Publik
Modal disetor ( juta rupiah ) 5.000 5.000 5.000 5.000 5.000 75.000
Nominal per lembar saham ( rupiah )  1.000  1.000  1.000  1.000  1.000 1.000
Jumlah lembar saham yang dimiliki oleh masing-masing pemegang saham ( juta lembar ) 5 5 5 5 5 75
Prosentase kepemilikan 5% 5% 5% 5% 5% 75%
 Total modal disetor ( rupiah ) 100.000.000.000
Total saham beredar ( lembar ) 100.000.000

Nampak bahwa pemilik perorangan yang diawal pembentukan perusahaan memiliki prosentase masing-masing 20%, sekarang hanya memiliki prosentase masing-masing 5%.

Disagio

Disagio adalah selisih kurang setoran pemegang saham dibawah nilai nominalnya dalam hal saham dikeluarkan dengan nilai nominal.

Dengan kata lain,

Disagio adalah Agio yang negatif

Kembali ke ilustrasi diatas, jika perusahaan hendak ekspansi sementara kondisi perusahaan sedang merugi, sahamnya pasti dijual dibawah harga nominal. Siapa yang mau membeli sahamnya diatas harga nominal alias diharga premium?

Perlukah membeli saham luar negeri ?

Perlukah kita membeli saham luar negeri seperti yang ada di bursa Dow Jones, Nikkei dan bursa lainnya? Persoalan untuk mendapatkan untung besar di bursa saham bukanlah karena dimana sahamnya diperdagangkan, tetapi lebih karena apakah perusahaannya saat ini hingga beberapa tahun kedepan akan kontinyu dan apakah perusahaan yang persangkutan dapat meningkatkan labanya dari tahun ke tahun? Itulah kunci, kenapa saham harganya bisa berlipat ratusan persen bahkan ribuan persen hanya dalam beberapa bulan atau dalam beberapa tahun.

Perlukah membeli saham luar negeri ?

Saham luar negeri seperti Yahoo (YHOO) yang diperdagangkan di Bursa Dow Jones melejit diawal keberadaannya di bursa. Tapi apakah saham Yahoo layak anda beli saat ini???  Saham Yahoo (Yahoo populer dengan email gratis, Messenger dan Search Engine) meroket karena saat itu adalah saat lompatan besar (quantum leap) bisnis internet. Tapi apakah saham Yahoo layak anda beli saat ini??? Kompetitor Yahoo makin banyak dan semakin menggerogoti pangsa pasarnya.

Saham Semen Gresik (SMGR) melejit terus selama melantai di Bursa Efek Indonesia hingga tulisan ini saya buat (meski saat bursa hancur di tahun 2008, sahamnya sempat turun, namun begitu kepanikan reda, harga sahamnya kembali ke semula dan makin terus naik) . Karena memang kebutuhan semen tidak pernah turun. Indonesia sering terkena bencana. Membangun kembali membutuhkan semen. Infrastruktur di negara kita masih banyak yang perlu dikembangkan. Semua butuh semen. Tingkat pertumbuhan penduduk Indonesia cukup tinggi. Ini membutuhkan pembangunan perumahan baru terus menerus. Dan ini pun butuh semen.

Sesuai dengan hukum pasar, bila permintaan selalu ada, maka bisnis itu tidak akan berhenti dan terus berkembang. Kompetitor Semen Gresik adalah Indo Cement (INTP) dan Holcim Indonesia (SMCB). Bandingkan kompetitor Yahoo siapa saja???

Anda perlu menghilangkan asumsi yang menyesatkan bahwa sesuatu yang berbau asing pasti bagus 😀

Perlukah anda membeli saham?

Perlukah anda membeli saham? Sudah merupakan kebutuhan hidup bahwa seseorang mesti punya penghasilan. Ada yang mendapatkannya dengan bekerja secara formal di kantor-kantor. Ada yang mendapatkannya dengan membuat usaha pribadi. Ada yang mendapatkannya dengan bekerja sesuai profesinya (pengacara, dokter, guru, dll). Ada juga yang mampu mendapatkannya dari membangun usaha besar berupa perusahaan. Ada juga yang mendapatkannya dengan memungut uang sewa bagi yang memiliki sesuatu yang bisa disewakan.

Perlukah anda membeli saham?

Bagi anda yang bekerja formal, penghasilan didapat dari gaji. Kenaikan gaji secara berkala yag didapat dari bekerja formal sering kali kalah dengan kenaikan harga dari barang-barang kebutuhan (laju inflasi). Hanya sebagian kecil saja yang berhasil menduduki posisi manajerial yang gajinya bisa melampaui laju inflasi. Banyak diantaranya yang meski gaji sudah naik, malah semakin tidak mampu untuk mencukupi biaya hidup bulanan. Ujung-ujungnya perlu penghasilan tambahan.

Membuat Bisnis sendiri (Usaha sendiri)

Membuat usaha sendiri adalah impian setiap orang. Dengan memiliki usaha sendiri, seseorang punya kebebasan untuk berkarya dan berusaha. Namun, membangun usaha sendiri butuh keberanian, butuh mental tinggi untuk mencoba dan tidak kapok bila gagal. Dengan keterbatasan modal yang dimiliki seseorang, berapa kali akan sanggup mencoba sampai usaha anda bisa berjalan? Berapa banyak nafas anda (modal) hingga anda mampu untuk mencoba lagi bila gagal? Bagi yang akhirnya bisa menemukan usaha yang bisa berjalan, ini merupakan kesusksesan yang luar biasa. Kebanyakan orang membutuhkan keamanan. Oleh sebab itu lebih banyak yang memilih bekerja formal, meski kehilangan kebebasannya.

Membeli Property untuk disewakan

Memiliki sesuatu yang bisa disewakan merupakan pendapat pasif yang sangat menguntungkan. Umumnya berupa properti seperti rumah kontrakan, kos-kosan, ruko ataupun tanah yang disewakan. Untuk memiliki sebuah properti, dana yang dibutuhkan diawal juga cukup banyak. Apalagi bila lokasi yang ingin dimiliki merupakan lokasi yang strategis. Akibatnya, cukup sulit memulainya. Sementara kita mengumpulkan uang dengan menabung, harga properti semakin meningkat. Uang yang sudah terkumpul, yang mestinya cukup membeli properti dengan harga dua tahun yang lalu, sekarang masih cukup untuk separonya.

Misalkan saja anda punya sedikit uang yang dingin (tidak anda gunakan untuk kebutuhan sehari-hari) apa yang akan anda lakukan untuk mendapatkan nilai tambah dari uang anda tersebut?

Membangun usaha sendiri? Kalau anda gagal di uji coba pertama, dengan uang yang sebesar itu anda mungkin akan sulit untuk mencoba yang kedua kali.

Membeli emas

Membeli emas atau perhiasan emas? Ada keanehan dalam transaksi emas yang konvensional. Apabila harga emas di pasar dunia naik, maka toko emas akan menjual sesuai dengan harga emas yang sudah naik. Akan tetapi apabila kita hendak menjual, toko emas yang bersangkutan cendrung membeli sesuai dengan harga pada waktu kita membeli. Dan seringkali, toko emas hanya mau membeli emas dari kita, bila emas tersebut sebelumnya kita beli dari mereka. Apabila tidak (surat-surat yang membuktikan bahwa emas kita beli dari mereka tidak ada atau hilang) toko emas kalaupun mau membeli akan membeli dengan harga lebih rendah lagi.

Deposito

Ataukah anda akan mendepositokan saja uang anda, dengan alasan lebih aman? Seringkali bunga deposito tidak lebih tinggi dari laju inflasi.

Membeli properti untuk disewakan? Ini lebih tidak mungkin lagi karena dana anda hanya sedikit.

Membeli saham

Kenapa tidak membeli saham? Sekarang, anda dapat membeli saham dengan nilai rekening awal 5 juta. Saham memberikan peluang-peluang untuk melipat gandakan uang anda. Anda tidak perlu membangun sebuah bank dari awal. Anda cukup membeli saham dari bank yang sudah berjalan dengan kinerja bagus. Anda tidak perlu mebangun bisnis di usaha pertambangan dengan modal dan tingkat kesulitan yang begitu tinggi. Anda cukup membeli saham dari perusahaan tambang yang berkinerja bagus. Anda tidak perlu membangun perkebunan yang luas. Anda cukup membeli saham dari perusahaan perkebunan yang berkinerja bagus. Periode 2003 hingga akhir 2007 ada lebih dari dua puluh saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia mengalami kenaikan harga hingga lebih dari 20 kali lipat.

Bagaimana kalau harga saham turun drastis seperti yang terjadi di pertengahan 2008? Jika saham-saham yang anda memiliki merupakan saham dengan kondisi fundamental bagus dan mempunyai masa depan bisnis yang tetap bagus, anda hanya rugi waktu maksimal dua tahun supaya harga-harga kembali ke harga semula, dan makin naik lagi. Anda bisa menganggap situasi ini seolah-olah anda memiliki properti yang belum laku dijual dan baru laku dua tahun kemudian. Akhir 1997, harga saham jatuh mirip dengan kejadian pertengahan 2008. Harga saham yang jatuh di tahun 1997 akhirnya pulih kembali di akhir 1998. Ada banyak penjelasan tentang hal ini yang mungkin akan dijelaskan di topik yang lain. Yang lebih penting, bagi yang belum berinvestasi di saham, kenapa tidak mulai memikirkannya? Belajar untuk mulai memahami dunia saham?

Cara membeli saham

Jika anda sangat awam dengan dunia saham tentu saja masih bingung dengan cara untuk membeli saham-saham yang ada di Bursa. Langkah-langkah agar anda bisa membeli saham  dapat anda baca pada halama berikut :

► Cara membeli saham di Bursa Efek Indoensia

Exit mobile version